Trump memahami bahwa "pasar obligasi telah menjatuhkan lebih banyak pemerintahan ketimbang meriam howitzer," ujar Bessent, yang tampaknya merujuk pada konsekuensi politik akibat lonjakan biaya pinjaman jangka panjang yang dipicu oleh inflasi. "Jadi, saya yakin beliau memiliki kepercayaan penuh pada Gubernur The Fed untuk melakukan hal yang benar."
Prospek Inflasi
Bessent juga memperkirakan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) akan melambat setelah negosiator AS dan Iran mulai bekerja untuk mengakhiri perang di Iran, yang sebelumnya memicu lonjakan biaya energi.
“Sekarang saya percaya kita sudah berada di sisi lain dari konflik ini, harga bahan bakar akan turun kembali, dan inflasi akan kembali ke target,” ujarnya.
Data yang akan dirilis Kamis diperkirakan menunjukkan indikator inflasi pilihan The Fed naik 4,1% pada Mei dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat target inflasi The Fed sebesar 2%.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan dan energi diperkirakan meningkat 3,4%, berdasarkan survei ekonom yang dilakukan Bloomberg.
Bessent juga mengatakan penerbitan izin sementara selama 60 hari bagi Iran untuk menjual minyak merupakan “manfaat umum bagi pasar global” dan menjadi bagian dari “rangkaian proses negosiasi” dengan Iran.
Sebelumnya pada Selasa, Senat AS yang dikuasai Partai Republik untuk pertama kalinya memberikan suara guna mengakhiri perang dengan Iran, mencerminkan sentimen publik yang menentang keterlibatan Trump dalam konflik di Timur Tengah.
Komentar Mengenai Dolar
Dalam pidatonya, Menteri Keuangan AS itu juga memaparkan prinsip-prinsip kebijakan ekonomi luar negeri Washington. Menurutnya, AS harus melampaui prinsip-prinsip liberal setelah Perang Dunia II yang dibangun berdasarkan asumsi-asumsi yang “tidak pernah terwujud.”
Sebaliknya, Washington perlu berfokus pada pengurangan kerentanan terhadap tekanan dari negara lain dan menuntut adanya timbal balik dari para mitra dagangnya.
Ketika ditanya mengenai kontradiksi antara upaya mempertahankan dolar yang kuat dan keinginan meningkatkan daya saing manufaktur AS, Bessent menegaskan keduanya tidak saling bertentangan.
“Ketika orang berbicara tentang dolar yang kuat, saya rasa yang dimaksud bukanlah Bloomberg Dollar Index,” katanya.
Ia mencatat bahwa nilai dolar telah melemah sejak awal tahun lalu. “Saya tidak bangun tidur lalu berpikir, hebat, ini membantu perekonomian. Saya hanya melihatnya sebagai sebuah harga yang muncul di layar,” ujar Bessent.
(bbn)
































