Logo Bloomberg Technoz

Masalah lain yang belum terselesaikan adalah nasib negara-negara seperti India, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris yang telah menandatangani perjanjian dagang dengan AS sehingga tarif mereka dibatasi pada tingkat yang lebih rendah melalui negosiasi, terutama untuk sektor otomotif. Pejabat AS berupaya meyakinkan negara-negara tersebut bahwa perjanjian itu tetap berlaku.

Kunjungan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer ke India pekan ini diperkirakan dapat memberikan gambaran mengenai apa yang akan dihadapi negara-negara yang telah memiliki kesepakatan dagang. Menteri Perdagangan dan Industri India, Piyush Goyal, mengatakan dalam konferensi pers bahwa, “Persoalan yang saat ini masih tertunda adalah tarif kami harus lebih rendah dibanding negara-negara pesaing,” sebagaimana dikutip kantor berita ANI.

Dengan berbagai catatan tersebut, berikut gambaran negara-negara yang berpotensi menjadi pemenang dan pihak yang dirugikan dalam fase berikutnya dari kebijakan tarif Trump.

Pemenang

Filipina

Dalam kebijakan tarif Liberation Day, Filipina dikenakan tarif sebesar 19%. Namun, negara Asia Tenggara itu diperkirakan hanya akan dikenakan tarif 12,5% jika sanksi terkait kerja paksa diterapkan sesuai rencana. Filipina tidak menjadi sasaran penyelidikan terkait kelebihan kapasitas industri sehingga tidak diperkirakan menghadapi kenaikan tarif tambahan di kemudian hari.

Artinya, tarif Filipina berpotensi turun hampir tujuh poin persentase dibanding April 2025. Nilai impor barang AS dari Filipina mencapai US$7,7 miliar selama empat bulan pertama tahun ini, naik 51% dibanding periode Januari-April 2025.

Afrika Selatan

Pada April 2025, Afrika Selatan dikenai tarif sebesar 30% setelah Trump berulang kali menuduh pemerintah negara itu melakukan diskriminasi terhadap warga kulit putih Afrikaner. Kini, tarif tersebut diperkirakan turun menjadi 12,5% setelah penyelidikan terkait kerja paksa selesai.

Nilai ekspor barang Afrika Selatan ke AS hingga April tercatat sebesar US$3,5 miliar, turun 56% dibanding tahun sebelumnya.

Negara-negara Ekonomi Kecil

Sejumlah negara dengan nilai perdagangan ke AS di bawah US$10 miliar diperkirakan memperoleh keuntungan dari sistem tarif baru ini. Beberapa di antaranya berpotensi kembali ke tarif negara yang paling diprioritaskan (most favored nation) setelah sebelumnya dikenakan tarif yang sangat tinggi.

Kondisi ini dapat membuka peluang baru bagi perusahaan multinasional untuk memindahkan rantai pasok mereka ke negara-negara tersebut guna menghindari tarif yang lebih tinggi.

Tarif Pakistan diperkirakan turun 19 poin persentase menjadi 10% dari sebelumnya 29%. Myanmar, yang dikenakan tarif 44% pada April 2025, kini berpotensi hanya menghadapi tarif antara 0% hingga 2% untuk sebagian besar produknya. Laos dan Lesotho juga berada dalam posisi serupa.

Pihak yang Dirugikan

Singapura

Meski rincian akhir kebijakan masih belum sepenuhnya jelas, Singapura hampir dipastikan akan berada dalam posisi yang lebih buruk di bawah rezim tarif baru.

Pada April 2025, Singapura tidak dikenai tarif darurat khusus per negara. Namun, negara kota tersebut tetap terkena tarif umum 10% yang diberlakukan terhadap berbagai negara awal tahun ini. Kini, tarif itu berisiko meningkat karena Singapura menghadapi tarif 12,5% terkait kerja paksa serta kemungkinan tarif tambahan dari penyelidikan kelebihan kapasitas industri.

Warga Singapura, menurut Deborah Elms, Kepala Kebijakan Perdagangan di Hinrich Foundation, “sangat menyadari” bahwa tembok tarif baru ini menjadi masalah bagi mereka.

“Mereka sebelumnya berada pada posisi yang cukup nyaman dengan tarif 10%, dan sekarang berisiko terdorong ke posisi yang lebih buruk,” katanya.

Situasi menjadi semakin rumit karena Singapura merupakan salah satu pusat transit kapal tersibuk di dunia. Banyak bahan baku masuk melalui pelabuhan dan kawasan industrinya sebelum diekspor kembali sebagai produk jadi.

Masih Terlalu Dini untuk Menentukan

Kanada

Sekilas, Kanada tampak berada dalam posisi yang lebih baik karena tarif impor saat ini lebih rendah dibanding April 2025. Selain itu, terdapat pengecualian penting bagi barang-barang yang memenuhi syarat dalam perjanjian USMCA.

Namun, tarif sektoral terhadap logam telah memberikan tekanan besar terhadap industri Kanada.

Trump juga berulang kali mengancam akan menarik AS keluar dari perjanjian perdagangan Amerika Utara yang justru dirancang pada masa jabatan pertamanya. Ia juga secara terbuka menyatakan keberatannya terhadap langkah-langkah balasan yang diambil Kanada.

Meski ancaman tersebut mungkin hanya bagian dari strategi negosiasi, Kanada tetap tidak bisa merasa aman menjelang renegosiasi Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA) pada paruh kedua tahun ini.

Meksiko

Meksiko saat ini berupaya mendapatkan keringanan tarif untuk sektor otomotif dengan alasan bahwa tarif yang mereka hadapi lebih tinggi dibanding sebagian kendaraan yang diimpor dari Korea Selatan atau Jepang.

Dalam pembahasan USMCA yang masih berlangsung, Washington mendorong Meksiko menerapkan aturan bahwa kendaraan yang diproduksi di kawasan perdagangan Amerika Utara harus mengandung setidaknya 50% komponen asal AS.

Perundingan akan berlanjut setidaknya hingga Juli, sehingga dampak perdagangan terhadap Meksiko dalam jangka pendek masih belum jelas.

Uni Eropa

Uni Eropa menghadapi tekanan dari AS untuk segera meratifikasi perjanjian perdagangan yang telah disepakati.

Parlemen Eropa dan negara-negara anggota masih harus melakukan pemungutan suara untuk mengesahkan teks final sebelum tenggat waktu 4 Juli yang ditetapkan Trump. Presiden AS itu menyatakan bahwa jika perjanjian belum berlaku hingga tanggal tersebut, ia akan menaikkan tarif mobil Eropa menjadi 25% dari sebelumnya 15%.

Meski demikian, Greer berusaha meyakinkan Brussels bahwa “kesepakatan tetaplah kesepakatan.”

Parlemen Eropa telah menyetujui perjanjian tersebut pekan lalu. Negara-negara anggota diperkirakan memberikan persetujuan final dalam beberapa hari ke depan sebagai tahap terakhir dari proses ratifikasi yang berlangsung hampir satu tahun.

Namun, pekan lalu Trump juga meluncurkan penyelidikan Section 301 terhadap Jerman dengan alasan “pembayaran yang terus-menerus terlalu rendah untuk produk farmasi inovatif.”

Menanggapi hal itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan ia berharap AS tetap mematuhi komitmen dagangnya dengan Eropa dan menegaskan bahwa kebijakan pembayaran obat-obatan merupakan urusan domestik Jerman.

China

China berada dalam posisi yang jauh lebih baik dibanding awal masa jabatan kedua Trump.

Saat kampanye presiden 2024, Trump berjanji akan menerapkan tarif sebesar 60% terhadap produk-produk China. Namun, menurut analisis Bloomberg Economics, tarif efektif saat ini hanya sekitar 21%.

AS dan China dijadwalkan kembali membahas gencatan perang tarif pada musim gugur mendatang. Meski masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi hingga saat itu, Presiden China Xi Jinping telah menunjukkan besarnya pengaruh negaranya terhadap perekonomian AS melalui pembatasan ekspor logam tanah jarang yang dilakukan tahun lalu.

(bbn)

No more pages