Selain itu, ketegangan geopolitik dan berbagai faktor eksternal lainnya juga memberikan tekanan terhadap mata uang di banyak negara.
Menurut Shan, kondisi tersebut bukan hanya dialami Indonesia.
“Bukan mata uang rupiah Anda saja yang terdepresiasi. Mata uang tunggal Euro juga turun. Yen Jepang juga turun. Pound sterling juga turun,” katanya.
Ia juga menyebut bahwa sejumlah mata uang negara berkembang lain seperti rand Afrika Selatan, peso Filipina, dan dong Vietnam mengalami tekanan serupa terhadap dolar AS.
Karena itu, menurut Shan, pelemahan rupiah harus dilihat dalam konteks global yang lebih luas.
“Semua mata uang ini, mereka terdepresiasi terhadap dolar AS,” ujarnya.
Di sisi lain, ia menilai kondisi fundamental Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan tersebut.
“Ekonomi tetap tangguh, pola konsumsi kuat, investasi terus mengalir di Indonesia,” kata Shan.
Ia juga menyoroti fakta bahwa rupiah telah menunjukkan pemulihan setelah sempat berada di level terendah.
“Rupiah Indonesia telah menguat 2,8% dalam 10 hari terakhir,” ujarnya.
Shan menegaskan bahwa selama stabilitas politik, ekonomi, dan keuangan tetap terjaga, pelemahan sementara nilai tukar tidak perlu dipandang sebagai sinyal krisis.
“Ada stabilitas politik, ada stabilitas keuangan, dan ada stabilitas ekonomi di Indonesia,” katanya.
Menurutnya, kondisi Indonesia saat ini sangat berbeda dibandingkan periode krisis yang pernah terjadi sebelumnya.
Untuk informasi selengkapnya saksikan: Bloomberg Technoz Exclusive Interview: Menjaga Kepercayaan, Mempertahankan Pertumbuhan Ekonomi RI.
(red)





























