Logo Bloomberg Technoz

Kas PLN Seret, Pembayaran Batu Bara DMO ke Penambang Rawan Macet

Azura Yumna Ramadani Purnama
22 June 2026 12:20

Seorang pekerja menutupi batu bara di tumpukan di lokasi tambang PT Triaryani di Musi Rawas, Sumatera Selatan, Indonesia./Bloomberg-Muhammad Fadli
Seorang pekerja menutupi batu bara di tumpukan di lokasi tambang PT Triaryani di Musi Rawas, Sumatera Selatan, Indonesia./Bloomberg-Muhammad Fadli

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pakar energi menyorot kelancaran arus kas PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN gegara piutang dari pemerintah pada 2025 melonjak Rp67,45 triliun menjadi Rp110,74 triliun.

Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat pembayaran batu bara ke penambang melalui program domestic market obligation (DMO) menjadi lambat.

Kepala Dekarbonisasi Industri dan Transportasi INDEF GTI Andry Satrio Nugroho mencatat, pada saat yang sama, kas dan setara kas PLN turun dari Rp61,36 menjadi Rp19,16 triliun pada 2025, lalu kompensasi yang dibukukan PLN tercatat berjumlah Rp112,73 triliun.

Jadi ketika kas mengetat, PLN mulai memperpanjang tempo pembayaran ke pemasoknya dengan perantaraan bank. [...] Jadi tekanan kas PLN tidak hanya muncul sebagai utang bank, tetapi juga sebagai penundaan pembayaran ke pemasok energinya sendiri

Kepala Dekarbonisasi Industri dan Transportasi INDEF GTI Andry Satrio

Dia menilai sekitar sepertiga dari seluruh dukungan pemerintah yang dibukukan pada tahun lalu tidak diterima sebagai uang, melainkan sekadar tumpuan tagihan belaka.

Andry menyatakan PLN tidak benar-benar memegang pendapatan tersebut, tecermin dari kas perseroan yang turun.