Logo Bloomberg Technoz

BI Rate Naik-Kurs Masih Rp17 Ribu, Pengusaha IT Ubah Strategi

Merinda Faradianti
19 June 2026 19:30

Rupiah. dok: Bloomberg
Rupiah. dok: Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta - Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengaku harus mengubah strategi ekspansi bisnis, lantaran kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate yang juga beriringan masih belum pulihnya kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Ketua Umum APJII, Muhammad Arif Angga bercerita bahwa kondisi tersebut membuat biaya investasi semakin mahal sehingga perusahaan harus lebih berhati-hati dalam menyusun rencana ekspansi.

Ia menyebut, kenaikan suku bunga dan rupiah yang masih lemah memberikan tekanan ganda bagi industri yang selama ini dikenal padat modal, seperti penyedia layanan internet (ISP), operator telekomunikasi, penyedia infrastruktur internet, pusat data, hingga perusahaan teknologi.

“Ketika suku bunga naik dan rupiah melemah secara bersamaan, maka biaya investasi menjadi lebih mahal dan proses perencanaan bisnis harus lebih hati-hati,” kata Arif Angga, pada Bloomberg Technoz, Jumat (19/6/2026).

Sebelumnya, Bank Indonesia resmi menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026. Kenaikan ini terjadi sebanyak tiga kali dalam kurun waktu sekitar satu bulan sejak Mei 2026, dengan total kenaikan kumulatif sebesar 100 bps.

Meski demikian, kondisi yang terjadi tidak serta-merta membuat pelaku industri menghentikan ekspansi. Beberapa perusahaan memilih mulai mengubah pendekatan bisnis dengan lebih selektif dalam mengalokasikan investasi. Pasalnya, kebutuhan konektivitas dan layanan digital di Indonesia masih terus meningkat.

“Kami cenderung melakukan penyesuaian strategi. Misalnya dengan lebih selektif dalam belanja modal, memprioritaskan wilayah dengan permintaan yang jelas, melakukan efisiensi operasional, mencari skema pembiayaan yang lebih sehat, serta memperkuat kerja sama antar pelaku industri,” ujarnya.

APJII menilai dampak kenaikan BI Rate paling terasa bagi perusahaan yang masih mengandalkan kredit modal kerja maupun pembiayaan dari sektor perbankan. Sebab, naiknya suku bunga berpotensi meningkatkan beban bunga yang harus ditanggung perusahaan, terutama bagi perusahan yang sedang menjalankan proyek ekspansi besar.

Arif menambahkan bahwa tekanan akan sangat dirasakan oleh perusahaan yang tengah membangun jaringan backbone, memperluas infrastruktur fiber optik, mengembangkan pusat data, menambah perangkat access network, maupun menjalankan program transformasi digital yang membutuhkan belanja modal dalam jumlah besar

Selain faktor suku bunga, pelemahan rupiah juga menambah tantangan bagi industri TIK nasional. Di mana, sebagian besar perangkat pendukung infrastruktur digital masih bergantung pada impor, mulai dari perangkat jaringan, server, storage, komponen data center, hingga lisensi perangkat lunak tertentu yang dibayar menggunakan mata uang asing.

Dengan kondisi tersebut, perusahaan dituntut secara cermat mengelola arus kas dan menentukan prioritas investasi agar ekspansi tetap berjalan tanpa mengganggu kesehatan keuangan perusahaan.

Meski menghadapi berbagai tekanan, APJII masih optimistis prospek industri internet dan digital di Indonesia masih kuat seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan konektivitas.

“APJII berharap stabilitas makroekonomi, khususnya suku bunga dan nilai tukar dapat terus dijaga agar investasi infrastruktur digital tetap berjalan. Infrastruktur internet adalah tulang punggung ekonomi digital nasional, sehingga dukungan terhadap keberlanjutan investasi di sektor ini menjadi sangat penting,” tutup Arif.