Ekonom: Kenaikan BI-Rate 100 Bps Pukul Pertumbuhan Sektor Riil
Mis Fransiska Dewi
30 July 2026 10:30

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom berpandangan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia alias BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang Mei hingga Juni 2026 dinilai memberi tekanan terhadap sektor riil. Kenaikan bunga kredit disebut berpotensi menunda investasi, menekan konsumsi rumah tangga, hingga memperlambat penyaluran kredit.
Direktur Riset Bidang Makroekonomi Kebijakan Fiskal dan Moneter Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Akhmad Akbar Susanto, mengatakan kenaikan BI-Rate berdampak langsung terhadap biaya pembiayaan dunia usaha. Pelaku usaha yang sebelumnya berencana membeli mesin atau barang modal melalui pembiayaan perbankan berpotensi menunda ekspansi karena biaya pinjaman menjadi lebih mahal.
“Ketika tingkat suku bunga naik, jadi enggak jadi. Karena terasa terlalu mahal gitu. Apa yang terjadi? Tertunda investasinya,” kata Akhmad dalam agenda CORE Midyear Economic Review 2026 "Pertaruhan Stabilitas Ekonomi", Rabu (29/7/2026).
Sepanjang Mei hingga Juni 2026, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate secara bertahap hingga 100 bps. Pada Mei 2026, BI-Rate naik 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%.
Selanjutnya, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,50%. Pada RDG Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Sementara itu, dalam RDG Juli 2026, BI memutuskan mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.

































