Logo Bloomberg Technoz

Untuk itu, dia meminta pemerintah untuk tetap bersikap waspada meskipun konflik di Timur Tengah sudah mulai mereda.

“Pemerintah perlu menyiapkan skenario harga minyak US$80—US$90 agar risiko fiskal tidak membengkak dan menjaga keberlanjutan APBN jangka menengah secara hati-hati terukur,” ungkap dia.

Harga minyak mentah dunia bergerak melemah seiring dengan langkah para pelaku pasar menganalisis dampak dari pakta perdamaian sementara antara AS dan Iran.

Berdasarkan laporan televisi negara Republik Islam tersebut serta seorang pejabat AS, dokumen kesepakatan itu kini telah ditandatangani secara digital oleh presiden kedua negara.

Kesepakatan tersebut berpotensi membuka kembali aliran jutaan barel minyak dari Timur Tengah seiring dimulainya kembali lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz setelah berakhirnya blokade ganda.

Konflik tersebut pecah pada akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran dengan tujuan membatasi program nuklir negara tersebut.

Sebagai respons, Teheran memblokir Selat Hormuz, jalur yang pada masa normal mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Adapun, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun 0,9% menjadi US$79,17/barel pada pukul 12:07 siang hari ini di Singapura.

Harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun 0,8% menjadi US$76,01/barel. Kontrak WTI Agustus yang lebih aktif turun 0,8% menjadi US$75,23/barel.

Sekadar catatan, Goldman Sachs memangkas proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kuartal IV-2026 menjadi US$80/barel dari proyeksi sebelumnya sebesar US$90/barel, seiring dengan kesepakatan damai sementara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diyakini bisa mengakhiri perang di Teluk.

Bank investasi tersebut mengasumsikan ekspor dari kawasan Teluk bakal kembali normal ke level sebelum perang pada akhir Juli, dari sebelumnya diproyeksikan bakal terjadi pada akhir Agustus.

“Meskipun rincian lengkap dari perjanjian tersebut belum jelas, kami sekarang berasumsi bahwa ekspor dari Teluk Persia akan kembali normal ke tingkat sebelum perang pada akhir Juli,” kata para analis Goldman Sachs tersebut termasuk Daan Struyven dalam catatannya.

Selain itu, proyeksi rata-rata harga minyak Brent sepanjang 2027 juga dipangkas menjadi sekitar US$75/barel dari sebelumnya sebesar US$80/barel.

Adapun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat menegaskan kenaikan harga ICP periode April ke level US$117,31/barel tidak akan memengaruhi harga BBM bersubsidi; Solar dan Pertalite.

Alasannya, Bahlil sudah mendapatkan arahan dari Presiden Prabowo Subianto untuk merumuskan hitung-hitungan ICP hingga rata-rata US$100/barel.

“Saya mendapat arahan dari Bapak Presiden Prabowo telah merumuskan untuk ICP sampai dengan US$100/barel rata-rata ya,” kata Bahlil kepada awak media di kantor Kementerian ESDM, Selasa (19/5/2026).

Sebagai informasi, total pagu anggaran subsidi energi dalam APBN 2026 mencapai Rp210,06 triliun.

Dengan perincian anggaran subsidi Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) mencapai Rp25,14 triliun; subsidi LPG tabung 3 Kg mencapai Rp80,26 triliun; dan subsidi listrik sebanyak Rp104,64 triliun.

Apabila digabungkan dengan anggaran kompensasi energi, maka anggaran subsidi dan kompensasi energi Indonesia pada 2026 dipatok senilai Rp381,3 triliun.

(azr/wdh)

No more pages