Namun, penyedia indeks global itu menyoroti memburuknya aspek arus informasi atau information flow, yang berkaitan dengan transparansi kepemilikan saham dan identifikasi transaksi yang terkoordinasi.
Secara keseluruhan, 10 dari 18 kriteria memperoleh penilaian tertinggi atau ‘++’, enam kriteria mendapat nilai ‘+’, sementara dua kriteria, yakni Information Flow dan Foreign Exchange Market Liberalization Level, masih memperoleh penilaian negatif dan dinilai perlu ditingkatkan.
Hasan mengatakan, masukan tersebut sejalan dengan agenda reformasi pasar modal yang tengah dikerjakan bersama oleh OJK, Bursa Efek Indonesia, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), serta pelaku industri.
"Kami memandang masukan tersebut sebagai bagian dari proses evaluasi yang konstruktif dan sejalan dengan agenda reformasi pasar modal yang saat ini sedang dijalankan bersama," ujarnya.
Hasan menambahkan, MSCI juga mengakui sejumlah perbaikan yang telah dilakukan Indonesia, termasuk berkurangnya beberapa catatan terkait liberalisasi pasar valuta asing. Meski begitu, area tersebut masih memerlukan peningkatan lebih lanjut.
Dengan demikian, OJK terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia agar perbaikan yang dilakukan tetap selaras dengan kebijakan makroprudensial nasional dan mitigasi risiko guna menjaga stabilitas pasar.
Di samping itu, dalam beberapa bulan terakhir, OJK dan anggota SRO lainnya juga telah menjalankan berbagai reformasi, mulai dari peningkatan kualitas data kepemilikan saham, penguatan keterbukaan informasi, pengembangan kerangka pelaporan beneficial ownership, peningkatan kapasitas pengawasan perdagangan, hingga penyempurnaan regulasi untuk mendukung perlindungan investor.
"Berdasarkan feedback dari para pelaku pasar dan global index provider seperti MSCI dan FTSE, berbagai reformasi yang telah dilakukan saat ini telah memperoleh acknowledgement dan sudah digunakan sebagai variabel dalam menentukan konstituen indeks maupun kebijakan portofolio investasi," tutur Hasan.
Dia juga mengingatkan bahwa proses evaluasi akan terus berlanjut. Penyedia indeks global masih akan menghimpun masukan dari berbagai pelaku pasar, mulai dari manajer investasi, broker, hingga hedge fund, untuk memvalidasi efektivitas reformasi yang telah diterapkan Indonesia.
Hasan menyebut, hasil review MSCI akan menjadi salah satu acuan dalam menentukan prioritas kebijakan selanjutnya, sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Lebih lanjut, OJK juga berkomitmen untuk terus memperkuat komunikasi dengan MSCI, FTSE Russell, serta investor global agar berbagai reformasi yang telah dilakukan dapat dipahami secara lebih komprehensif.
Hasan optimistis, didukung fundamental ekonomi yang kuat dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, daya saing pasar modal Indonesia akan terus meningkat.
"Masukan MSCI kami pandang sebagai bagian dari proses perbaikan yang konstruktif. Dengan konsistensi reformasi yang sedang berjalan, kami optimistis kualitas dan daya saing pasar modal Indonesia akan terus menguat ke depan," pungkas Hasan.
(cpa/naw)





























