Logo Bloomberg Technoz

Aksi jual di pasar SUN terjadi kala The Fed kembali memberi sinyal hawkish dengan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,5-3,75% pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) kemarin. 

Ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama mendorong kenaikan imbal hasil aset dolar dan meningkatkan daya tarik investasi di pasar AS, termasuk obligasi, sehingga menekan aliran modal ke negara berkembang seperti Indonesia. 

Meski pasar mulai memperhitungkan risiko suku bunga AS yang lebih tinggi, menurut BlackRock Inc, obligasi kawasan Asia diperkirakan tetap mampu memberikan manfaat diversifikasi bagi portofolio investor. 

"Interpretasi pasar yang cenderung hawkish terhadap rapat FOMC pertama yang dipimpin Gubernur Kevin Warsh kemungkinan akan menimbulkan sejumlah dampak di Asia, terutama berupa penguatan dolar AS dan kemungkinan kenaikan suku bunga," tulis Navin Saigal, Head of Global Fixed Income Asia Pacific BlackRock, seperti dikutip Bloomberg News.

Meski demikian, dia berpendapat dampak tersebut tidak akan sepenuhnya diteruskan ke pasar Asia dengan intensitas yang sama.

"Sejumlah langkah yang telah diambil bank sentral Asia dalam beberapa bulan terakhir, meredanya guncangan harga minyak seiring penyelesaian konflik di Timur Tengah, serta titik awal ekspektasi inflasi dan jalur suku bunga yang berbeda di masing-masing negara kemungkinan akan mengurangi besarnya transmisi tekanan tersebut."

Saigal mencatat banyak bank sentral di kawasan Asia Pasifik telah menaikkan suku bunga, atau pasar memperkirakan langkah serupa akan dilakukan dalam beberapa bulan mendatang.

"Bank Indonesia telah dua kali mengejutkan pasar dalam dua bulan terakhir dengan total kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin. Pengetatan kebijakan serupa juga terjadi di Filipina," katanya. 

Senada, Analis Valas Bloomberg Economics Audrey Childe-Freeman menyebut, langkah hawkish The Fed justru membuat bank-bank sentral di Asia jadi masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Hari ini, pelaku pasar menantikan arah kebijakan Bank Indonesia. Secara konsensus yang dihimpun Bloomberg, BI diperkirakan kembali menaikkan suku bunga acuan 25 bps ke 5,75%. 

Namun, sebagian ekonom memperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga di 5,5% dengan pertimbangan efek kenaikan suku bunga sebelumnya berdampak pada kenaikan biaya pembiayaan (cost of fund). 

(dsp/aji)

No more pages