Sementara itu, penggunaan AI untuk pekerjaan dan produktivitas paling tinggi ditemukan pada Generasi X dan Milenial yang masing-masing mencapai 33,3% dan 26,3%.
APJII juga mencatat, penggunaan AI untuk hiburan menjadi aktivitas yang paling populer di Indonesia. Sebanyak 36,5% pengguna AI memanfaatkannya untuk membuat atau mengakses konten video dan gambar generatif. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 29,5%.
Posisi kedua ditempati penggunaan AI untuk pendidikan dan riset seperti chatbot pembelajaran, pencarian informasi, hingga ringkasan akademik dengan porsi 30,2%. Meski masih cukup tinggi, persentase ini mengalami penurunan dibandingkan 2025 yang mencapai 43,9%.
Sementara itu, sebanyak 26,9% responden memanfaatkan AI untuk membantu penulisan otomatis, copywriting, analisis data, dan berbagai pekerjaan administratif lainnya. Angka tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2025 yang hanya 12,3%.
Penggunaan AI sebagai asisten digital berbasis suara seperti Siri, Google Assistant, dan Bixby tercatat sebesar 6,4%, angka ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 13,5%.
Dari sisi gender, pengguna AI laki-laki tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sebanyak 19,7% laki-laki mengaku menggunakan AI, sedangkan pada perempuan sebesar 16,7%.
Selain itu, sebanyak 45,8% perempuan menggunakan AI untuk membuat video atau gambar generatif, lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang mencapai 36,5%. Pada kategori pendidikan dan riset, perempuan juga lebih dominan dengan persentase 35,4%, sedangkan laki-laki berada di angka 30,2%.
Sebaliknya, sebanyak 27% laki-laki memanfaatkan AI untuk membantu aktivitas kerja, sedangkan perempuan sebesar 16,7%. Penggunaan asisten digital suara juga lebih tinggi pada laki-laki yang mencapai 6,4%, sementara perempuan hanya 2,1%.
Selain itu, APJII menemukan tingkat literasi masih menjadi tantangan utama dalam implementasi teknologi AI. Alasan terbesar masyarakat belum menggunakan AI, karena tidak mengetahui teknologi tersebut.
Persentasenya mencapai 46,6% pada 2026, meningkat dibandingkan 35,5% pada tahun sebelumnya. Sebanyak 22,7% responden mengaku tidak merasa membutuhkan layanan AI. Sebanyak 15,5% lainnya menyatakan tidak mengetahui cara menggunakan AI.
Sementara itu, sebagian kecil responden mengaku belum menemukan layanan AI yang menarik, merasa AI sulit digunakan, khawatir terhadap privasi dan keamanan data, atau belum memiliki perangkat dan akses teknologi yang memadai.
(lav)



























