Logo Bloomberg Technoz

Analis Nikel dan Stainless Steel SMM Bruce Chew mencatat produksi NPI di IWIP stabil di sekitar 40.000 ton kandungan nikel per bulan.

Dengan demikian, jika produksi NPI di IWIP turun sekitar 15%, terdapat penurunan produksi NPI sebesar 6.000 ton kandungan nikel per bulan.

“Secara tersendiri, volume ini kemungkinan tidak cukup untuk mengubah pasar nikel global keluar dari kondisi surplus, tetapi dapat memberikan dukungan langsung terhadap impor NPI ke China, sentimen pembelian pabrik, dan premi untuk NPI kadar tinggi,” tulis Chew dalam risetnya, dikutip Rabu (17/6/2026).

Stop Produksi dan Defisit Bijih

Sekadar catatan, Zhejiang Huayou Cobalt Co. mengumumkan penyetopan sejumlah lini produksi di smelter nikelnya di IWIP, yaitu PT Huafei Nickel Cobalt, mulai 1 Mei 2026.

Huayou menyatakan penyetopan sementara smelter nikel hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) tersebut dilakukan gegara terdapat lonjakan harga sulfur.

Ketika sejumlah lini produksi smelter Huafei tidak beroperasi, Huayou bakal melakukan pemeliharaan terhadap lini produksi tersebut.

Lebih lanjut, selama periode pemeliharaan tersebut, diperkirakan sekitar 50% produksi dari Huafei Nickel Cobalt bakal terdampak.

Di sisi lain, Eramet Indonesia mengungkapkan smelter nikel di IWIP berpotensi kekurangan bijih nikel sekitar 30 juta ton jika revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 PT Weda Bay Nickel (WBN) tak disetujui.

CEO Eramet Indonesia Jerome Baudelet menjelaskan konsumsi bijih nikel untuk smelter nikel di kawasan IWIP pada 2025 mencapai 120 juta ton, dari besaran itu pada tahun lalu WBN memasok sekitar 42 juta ton bijih nikel.

Dengan begitu, dengan kuota produksi 2026 yang hanya disetujui 12 juta ton dan sudah habis, Baudelet memprediksi smelter nikel di kawasan IWIP bakal kekurangan bijih nikel hingga 30 juta ton.

“Jika kami tidak mendapatkan perpanjangan Anda tahu seperti yang saya sampaikan dalam presentasi, konsumsi bijih di area IWIP adalah 120 juta ton. Tahun lalu kami memasok 42 juta. Jika kami tidak mendapatkan perpanjangan, maka Anda akan mengalami defisit 30 juta ton dari Weda Bay Nickel,” kata Baudelet kepada awak media di sela Indonesia Critical Mineral Conference, Kamis (4/6/2026).

Baudelet mengungkapkan, jika skenario tersebut terjadi, maka smelter nikel di kawasan IWIP harus mencari bijih dari wilayah lain seperti Pulau Sulawesi. Selain itu, bijih nikel biasanya dipasok dari Filipina.

Dia menjelaskan bijih nikel dari Sulawesi maupun Filipina memiliki harga yang lebih tinggi, dibandingkan dengan bijih yang diproduksi dari WBN.

(azr/wdh)

No more pages