Meski demikian, risiko terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang. Pelaku pasar masih menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 Juni mendatang.
Konsensus yang dihimpun Bloomberg, memperkirakan BI akan kembali mengerek suku bunga acuan menjadi 5,75%. Meski begitu, sejumlah ekonom dan analis menilai BI tetap mempertahankan suku bunga acuan di 5,5%, seiring membaiknya sentimen eksternal dan penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir.
Selain faktor suku bunga, investor juga masih mencermati persepsi risiko Indonesia yang dalam beberapa bulan terakhir meningkat akibat berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai menambah ketidakpastian investasi. Karena itu, penguatan rupiah saat ini lebih mencerminkan perbaikan sentimen global dibanding perubahan fundamental domestik yang signifikan.
Dengan demikian, arah rupiah dalam jangka pendek kemungkinan masih akan ditentukan oleh dua faktor utama: perkembangan implementasi kesepakatan AS-Iran yang memengaruhi harga minyak dunia, serta sinyal kebijakan yang akan disampaikan Bank Indonesia pada rapat pekan ini.
Selama harga minyak bertahan di bawah US$80 per barel dan indeks dolar AS tetap berada di bawah tekanan, peluang rupiah untuk bergerak stabil di bawah level Rp17.800 per dolar AS masih terbuka.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, tukar rupiah sejatinya masih ada asa menguat hari ini. Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat di level Rp17.650/US$. Resistance potensial selanjutnya menuju Rp17.600/US$ usai penembusan trendline sebelumnya.
Rupiah juga memiliki level Rp17.500/US$ sebagai target paling optimistis.
Namun jika nilai tukar rupiah berbalik arah hingga menembus level support Rp17.750/US$, maka mengonfirmasi support selanjutnya di Rp17.800/US$. Support psikologis ada di Rp17.900/US$.
(riset/aji)


























