Menurut Reza, indeks komposit berpotensi melanjutkan penguatan seiring terbentuknya pola V-shapre recovery dan keberhasilan untuk bertahan di atas level psikologis 6.000.
“Sentimen positif didukung oleh ekspektasi Bank Indonesia dan The Fed yang diperkirakan mempertahankan suku bunga,” tuturnya.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta menggarisbawahi indikator Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume.
“Secara teknikal, pergerakan IHSG diperkirakan masih dapat menguat setelah kembali membentuk pola upward bar,” kata Nafan.
Di sisi lain, investor menunggu rincian lebih lanjut terkait dengan kesepakatan kesepakatan damai antara AS dan Iran yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz.
Normalisasi ini memberikan efek pada penurunan harga minyak mentah dunia di bawah US$80 per barel sehingga meredakan sentimen risiko inflasi global.
Sementara itu, fokus utama para pelaku pasar tertuju pada hasil pertemuan FOMC The Fed terkait Keputusan Fed Rate serta FOMC Economic Projections, maupun RDG BI dalam rangka pengumuman BI Rate pada 18 Juni 2026.
Adapun Fed Rate diperkirakan tetap pada level 3,75% berdasarkan konsensus, sedangkan BI Rate diperkirakan naik 25 bps pada level 5,75% berdasarkan konsensus.
“Para pelaku pasar juga mulai tertuju pada agenda review klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026,” kata Nafan.
Sebelumnya, IHSG menutup perdagangan Senin (15/6/2026) dengan menguat di zona optimistis dengan melesat 4,12% di posisi 6.254. IHSG juga berhasil menyentuh level tertinggi 6.345 saat itu.
Volume transaksi tercatat menyentuh 54,61 miliar saham, dengan nilai jual–beli mencapai Rp30,14 triliun. Frekuensi yang terjadi sebanyak 3,25 juta kali diperjualbelikan.
Saham–saham barang baku, saham keuangan, dan saham perindustrian mencatatkan penguatan paling impresif, dengan masing–masing melesat mencapai 7,26%, 5,24% dan 4,51%.
Adapun saham–saham unggulan LQ45 turut menjadi penopang penguatan IHSG, saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melonjak 13,3% dan saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga melesat 12,1%. Sama halnya, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) juga lompat hingga 11,2%.
Melesatnya IHSG sepanjang perdagangan kemarin tersengat sentimen positif yang datang dari global, Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat damai untuk menyudahi perang konflik di Timur Tengah.
Wall Street Balik Arah
Di sisi lain, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (16/6). Pelemahan ini dipimpin oleh kejatuhan saham-saham perusahaan teknologi setelah sempat membukukan reli kenaikan besar selama beberapa hari terakhir.
“Momentum penguatan jelas mulai memudar,” tulis Jonathan Krinsky, kepala teknikal pasar di BTIG, dalam catatan resminya. Ia menambahkan bahwa indeks SOX telah memerah selama lima dari sembilan hari terakhir karena sebagian investor mulai "kehilangan keberanian".
Di pasar komoditas, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) ambles sekitar 5% dan diperdagangkan di kisaran US$77 per barel.
Penurunan ini terjadi di saat AS dan Iran tengah bersiap untuk menandatangani pakta damai sementara secara fisik di Swiss pada hari Jumat mendatang.
Sementara itu, survei terbaru dari Bank of America menunjukkan bahwa tren lonjakan saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan masih akan terus berlanjut.
Mayoritas investor dalam survei tersebut meyakini bahwa fenomena FOMO (fear of missing out) atau ketakutan akan tertinggalnya potensi keuntungan, masih menjadi motor utama yang menggerakkan aktivitas perdagangan.
“Langkah SpaceX untuk melantai di bursa merupakan momen pembuka jalan yang penting bagi sektor teknologi yang lebih luas" dan menjadi sinyal bagus bagi debut pasar OpenAI dan Anthropic mendatang, tulis analis Wedbush, Dan Ives, dalam laporannya.
(naw)





























