Logo Bloomberg Technoz

Liza mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan investor global masih memberikan valuasi premium kepada perusahaan-perusahaan teknologi generasi baru. Sementara itu, pasar Indonesia masih didominasi narasi pertumbuhan dari sektor perbankan, komoditas, konsumsi domestik, dan hilirisasi.

Piala Dunia 2026

"Piala dunia bukan risiko pasar, tapi risiko leakage likuiditas," kata Liza. 

Namun, Piala Dunia 2026 yang bertempat di North America diperkirakan memicu taruhan legal global hingga US$60 miliar, naik 71% dibanding Piala Dunia 2022 di Qatar, belum termasuk pasar ilegal. 

"Dengan Indonesia mencatat transaksi judol Rp286,8 triliun pada 2025, potensi dana yang berputar ke judi bola selama turnamen dapat mencapai Rp30-60 triliun." 

Jika dibandingkan, nilai tersebut setara 40%-70% dari total foreign net sell IHSG sejak awal tahun. Risiko terbesar bukan pada pasar saham secara langsung, melainkan berkurangnya likuiditas yang seharusnya dapat mengalir ke konsumsi dan investasi produktif domestik.

Risiko Domestik

Liza menegaskan IPO SpaceX bukan penyebab utama berlanjutnya arus keluar dana asing dari Indonesia. Menurutnya, investor global masih mencermati sejumlah faktor domestik yang membuat premi risiko Indonesia relatif tinggi.

"Akar persoalan sebenarnya belum berubah. Investor global masih menuntut risk premium lebih tinggi terhadap Indonesia akibat kombinasi pelemahan rupiah, kekhawatiran fiskal, ketidakpastian kebijakan, serta isu governance dan kredibilitas pasar modal," ujar Liza.

Liza menilai kehadiran SpaceX, gelaran Piala Dunia 2026, maupun aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung ada hari ini, lebih merupakan alasan tambahan bagi investor asing untuk menunda masuk ke pasar Indonesia.

"Ketiganya lebih tepat dipandang sebagai alasan tambahan untuk menunda, sementara akar persoalan tetap berada pada tingginya risk premium Indonesia akibat pelemahan rupiah, ketidakpastian kebijakan, serta kekhawatiran fiskal dan governance," terang Liza.

Lebih lanjut, di tengah kondisi tersebut, Liza melihat sejumlah sentimen yang sempat menekan pasar mulai menunjukkan perbaikan, antara lain, rupiah mulai bergerak lebih stabil setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%, tensi geopolitik global mereda, serta koordinasi pemerintah dan regulator dinilai semakin baik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

Di sisi lain, pasar masih menunggu sejumlah agenda penting dalam dua pekan ke depan, terutama MSCI Market Accessibility Review pada 19 Juni dan FTSE Russell Rebalancing pada 22 Juni. Kedua agenda tersebut dinilai dapat menjadi katalis bagi kembalinya minat investor asing ke pasar saham Indonesia.

(dhf)

No more pages