Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg, Kamis (11/6/2026).
- Amman Mineral Internasional (AMMN) mengurangi 7,63 poin
- Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 6,67 poin
- Barito Pacific (BRPT) mengurangi 6,22 poin
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 5,32 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 5,01 poin
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 4,73 poin
- Bumi Resources Minerals (BRMS) mengurangi 3,77 poin
- Bayan Resources (BYAN) mengurangi 2,79 poin
- Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) mengurangi 2,61 poin
- Merdeka Gold Resources (EMAS) mengurangi 2,07 poin
Adapun saham barang baku lain juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) drop 10,3%, saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) terpeleset 6,15%, dan saham PT Timah Tbk (TINS) juga melemah dengan kehilangan 5,9%.
Saham–saham LQ45 lainnya juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) drop 13,9%, saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terpeleset 5,08%, dan saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) juga melemah dengan kehilangan 4,87%.
Saham LQ45 potensial lainnya turut menjadi pemberat IHSG, saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) drop 4,74%, saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) melemah 4,62%, dan saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga terjebak di zona merah dengan drop 4,01%.
Analis Phintraco Sekuritas menyebut, IHSG ditutup melemah akibat kenaikan harga minyak, pelemahan harga emas, serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, hingga memicu terjadinya profit taking setelah indeks mengalami penguatan signifikan selama dua hari berturut–turut.
Di pasar spot, berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,22% di level Rp17.993/US$, turut membayangi IHSG.
“Secara teknikal, MACD berpotensi membentuk golden cross dan IHSG ditutup di atas level MA5 dan MA10,” papar Phintraco, Kamis.
Sehingga, lanjut riset tersebut, IHSG diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan menguji level 5.900–5.950
Sedang Panin Sekuritas memaparkan, sentimen risk–off masih berlanjut, tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkat, melemahnya harga komoditas, serta masih derasnya outflow dana asing.
Adapun juga rilis data terbaru dari penjualan ritel Indonesia mencatatkan kontraksi sebesar -3,7% YoY per April 2026 (dari yang sebelumnya: tumbuh 3,4% YoY) sekaligus kontraksi terdalam sejak Mei 2023.
Terlebih lagi pasar terus memantau perkembangan di Timur Tengah sambil menanti data ekonomi AS terbaru untuk petunjuk lebih lanjut mengenai prospek kebijakan The Fed.
“Pihak militer AS menyatakan telah menyelesaikan serangan terbarunya terhadap Iran, yang meningkatkan harapan bahwa negosiasi damai dapat dilanjutkan dan meredakan sebagian kekhawatiran terkait tekanan inflasi,” terang Panin.
(fad)






























