“Kemarin dalam keadaan pasar harga sedang turun, ya tentunya kemudian misalnya BUMN atau Himbara itu kemudian buyback kembali,” kata Dasco.
IHSG telah melorot 32,2% ke level 5.876 sejak awal tahun. Indeks komposit ditekan posisi jual bersih investor asing yang besar sepanjang tahun ini.
Mengutip penutupan perdagangan kemarin, posisi jual bersih investor asing sebesar Rp2,93 triliun di pasar reguler. Adapun, sejak awal tahun posisi jual investor asing telah mencapai Rp78,32 triliun.
Dari lantai bursa, saham BBCA berbalik menguat 1,33% ke level 5.725 pada perdagangan pagi ini. Sebelumnya, saham BBCA menguat 9,7% ke Rp5.650 per saham pada penutupan perdagangan kemarin.
Saham BBCA kini mencerminkan price to book value (PBV) sekitar 2,72 kali dengan PE Ratio (PER) 12,15 kali.
Sebelumnya, analis Bloomberg Intelligence Sarah Jane Mahmud dan Alison Hor berpendapat kenaikan suku bunga acuan berpotensi mendorong kinerja BBCA dibandingkan dengan kompetitor.
“BBCA berpotensi memperoleh peningkatan laba yang lebih besar dibanding bank-bank sejenis. Keunggulan BBCA terletak pada basis dana murah (low–cost–deposits) yang sangat besar, mencapai 81% dari total Dana Pihak Ketiga, lebih tinggi dibanding bank-bank sejenis yang berada di kisaran 67–70%,” jelas mereka.
Hal ini menempatkan BBCA di posisi yang lebih baik untuk mengelola tekanan kenaikan biaya pendanaan (funding cost) sekaligus mendukung pemulihan Net Interest Margin (NIM) setelah turun 10 basis poin menjadi 5,7% pada tahun lalu.
Kenaikan suku bunga terbaru ini, setelah sebelumnya BI juga menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada 20 Mei, diestimasikan dapat mendorong Net Interest Margin BBCA melampaui batas atas panduan manajemen di rentang 5,4–5,6%, serta melampaui ekspektasi konsensus yang memperkirakan NIM relatif datar pada tahun ini.
“Sebagai gambaran, setiap kenaikan 10 basis poin pada margin berpotensi mendukung pertumbuhan laba pada kisaran high single digit (mencapai 7–9%), lebih tinggi dibanding proyeksi pasar saat ini yang memprediksi pertumbuhan laba sekitar 5%,” terang Sarah dan Alison dengan analisisnya.
Konsensus Bloomberg
Sementara itu, konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg memperlihatkan sikap bullish terhadap saham BBCA. Dari 37 analis yang terlibat dalam pembentukan konsensus, 35 di antaranya (94,6%) menyematkan rekomendasi beli (buy).
Target harga 12 bulan ke depan ada di Rp8.826/saham. Dengan demikian, saham BBCA masih memiliki potensi kenaikan atau return potential mencapai 56,9%.
Salah satu analis yang memasang sikap bullish adalah Ferry Wong dari Citi yang memasang target Rp9.800/saham. Target paling optimistis berasal dari Erwin Wijaya dari Verdhana Sekuritas yang mencapai Rp10.100/saham.
(naw)






























