Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, Busa Asia justru kompak menapaki jalur merah, yang berseberangan dengan IHSG. Pada pukul 09:50 WIB, TW Weighted Index (Taiwan), TOPIX (Jepang), KOSPI (Korea Selatan), Hang Seng (Hong Kong), NIKKEI 225 (Tokyo), Shenzhen Comp (China), Ho Chi Minh Stock (Vietnam), CSI 300 (China), Shanghai Composite (China), Straits Times (Singapura), PSEI (Filipina), dan KLCI (Malaysia) yang terpangkas masing–masing 2,41%, 1,56%, 1,54%, 1,46%, 1,31%, 1,17%, 1,06%, 0,83%, 0,82%, 0,65%, 0,46%, dan 0,17%.

Bursa Saham Asia tersengat pelemahan yang terjadi di Bursa Saham Amerika Serikat. Dini hari tadi waktu Indonesia, tiga indeks utama di Wall Street kompak ditutup di zona merah. Nasdaq Composite, Dow Jones Industrial Average, dan S&P 500 amblas mencapai 1,98%, 187%, dan 1,62%.

Adapun indeks global dan regional tertekan akibat memanasnya kembali ketegangan di Timur Tengah.

Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, serangan baru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran melejitkan kembali kekhawatiran investor. Aksi militer tersebut menyusul peringatan Presiden AS Donald Trump bahwa Iran akan “membayar harga” karena menunda negosiasi mengenai kesepakatan damai sementara.

Serangan tersebut menyusul aksi militer pada Selasa sebagai balasan atas jatuhnya helikopter Apache milik AS, sekaligus menunjukkan meningkatnya ketidaksabaran Trump karena kedua pihak sejauh ini gagal mencapai kesepakatan.

Perkembangan terbaru itu juga menjadi indikasi baru gencatan senjata yang disepakati pada April telah runtuh, meski AS dan Israel belum kembali melancarkan kampanye pengeboman besar-besaran.

“Kami akan menyerang mereka, menyerang mereka dengan sangat keras,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu sebelum serangan terbaru diumumkan, menyitir Bloomberg News.

“Kami menghantam mereka keras kemarin, dan kami akan menghantam mereka keras lagi hari ini,” ujarnya.

Serangan tersebut mengerek kenaikan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melesat hingga nyaris 4% ke posisi US$93,52 per barel, setelah pada sesi perdagangan sebelumnya ditutup menguat. Sementara itu, minyak jenis Brent juga melejit mencapai tertingginya US$95,44 per barel.

(fad)

No more pages