AS meluncurkan “serangan pertahanan diri” terhadap Iran beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Teheran menjatuhkan helikopter militer Amerika di dekat Oman. Situasi itu memunculkan ancaman baru terhadap gencatan senjata yang rapuh dan harapan tercapainya kesepakatan untuk memulihkan arus energi.
Volatilitas saham teknologi kini menguji pasar yang sebelumnya didorong ke rekor tertinggi oleh optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi dan kecerdasan buatan atau AI.
Data ketenagakerjaan AS yang masih kuat juga memunculkan keraguan terhadap peluang pelonggaran kebijakan moneter. Investor kini menunggu laporan inflasi pada Rabu untuk mencari petunjuk apakah Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Euforia sudah terbentuk selama berbulan-bulan dan mendorong saham mencetak rekor demi rekor. Jadi apa pun yang dipersepsikan negatif bagi saham, mulai dari inflasi lebih tinggi hingga potensi kenaikan suku bunga akan mengguncang pasar setelah reli historis,” kata Chief Investment Officer Baker Boyer Bank, John Cunnison.
Penurunan saham teknologi terjadi bersamaan dengan meluasnya reli ke sektor lain di pasar. Sebanyak sembilan dari 11 sektor di indeks S&P 500 menguat.
Sektor defensif memimpin kenaikan, dengan real estate naik 2,1%, layanan kesehatan bertambah 1,3%, dan utilitas menguat 1,1%. Sektor teknologi dan energi menjadi satu-satunya yang melemah.
Rotasi tersebut menjadi kontras dengan reli sebelumnya yang semakin terkonsentrasi pada segelintir raksasa teknologi.
“Meski kami senang melihat kepemimpinan sektor teknologi, akan lebih konstruktif jika reli ini meluas ke sektor lain,” kata Bret Kenwell dari eToro.
“Ketika kepemimpinan hanya terkonsentrasi pada satu sudut sektor teknologi, fondasi pasar menjadi lebih rapuh,” tambahnya.
Volatilitas juga terjadi pada saham dengan valuasi tinggi menjelang gelombang penerbitan saham baru dalam jumlah besar, termasuk IPO SpaceX yang diperkirakan dipatok pekan ini.
Prospek tambahan pasokan saham baru memunculkan pertanyaan apakah permintaan investor cukup kuat untuk menyerapnya tanpa menekan valuasi saham lain di pasar.
“Uangnya berasal dari mana?” kata Anthony Saglimbene dari Ameriprise.
“Sebagian permintaan mungkin berasal dari kas. Sebagian lagi dari partisipasi investor ritel baru. Namun partisipasi institusi dalam transaksi sebesar ini juga dapat memaksa investor mengurangi kepemilikan saham yang sudah mencetak keuntungan besar,” ujarnya.
Di pasar lain, obligasi pemerintah AS atau Treasury menguat setelah penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi.
Imbal hasil obligasi turun tiga hingga empat basis poin di berbagai tenor.
Penurunan harga minyak dari level tertinggi multiyear pada April membantu meredakan kekhawatiran bahwa biaya energi akan mempertahankan inflasi tetap tinggi dan memaksa The Fed memperketat kebijakan.
Meski begitu, investor masih bersiap menghadapi bukti baru tekanan harga yang persisten saat data indeks harga konsumen atau CPI dirilis Rabu.
Ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan inflasi tahunan CPI meningkat menjadi 4,2% pada Mei dari 3,8% bulan sebelumnya.
Inflasi inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, diperkirakan naik tipis menjadi 2,9% dari 2,8%.
“Kombinasi data tenaga kerja yang lebih kuat dan inflasi yang masih tinggi membuat pasar mulai memperhitungkan peluang lebih besar bahwa The Fed harus memperketat kebijakan,” kata Kepala Strategi Suku Bunga AS TD Securities, Gennadiy Goldberg.
(bbn)



























