Meski begitu, sebagian besar kapal melintasi jalur perairan itu dengan mematikan transponder atau “going dark” agar tidak menjadi target.
Minyak dari produsen terbesar kelima di kawasan tersebut dimuat dari wilayah jauh di dalam Teluk Persia, sehingga tanker harus melewati “ujian” Selat Hormuz untuk mencapai pasar global. Uni Emirat Arab juga telah menjual jutaan barel minyak dari kawasan Teluk Persia kepada kilang di Asia. Namun total arus energi dari kawasan itu masih jauh di bawah level sebelum perang.
Trader mengatakan minyak tersebut ditawarkan langsung oleh perusahaan milik negara Kuwait Petroleum Corp. dan bukan melalui perantara. Barel minyak yang ditawarkan disebut sudah keluar dari jalur perairan Hormuz sehingga dapat segera dikirim ke pelabuhan di Asia, meski detail syarat penjualan tidak diungkapkan.
Kuwait Petroleum Corp. menolak berkomentar.
Penutupan efektif Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan energi terburuk dalam sejarah. Pasokan minyak berkadar sulfur tinggi yang umum diproduksi di kawasan tersebut nyaris terputus dari kilang, terutama di Asia, yang sebagian besar memang dirancang untuk mengolah jenis minyak tersebut.
Bloomberg sebelumnya melaporkan perusahaan seperti Aramco Trading Co. milik Arab Saudi dan perusahaan minyak negara Abu Dhabi National Oil Co. menggunakan pelayaran “gelap” untuk mengirim minyak mentah melalui selat itu, yakni dengan mematikan sinyal kapal.
Aktivitas kapal juga terpantau di sekitar pelabuhan Kuwait dalam beberapa waktu terakhir. Super tanker Al Riqqa dan Dar Salwa terakhir terlihat bersandar di terminal Mina Al Ahmadi milik Kuwait pada akhir Mei dan awal Juni sebelum transponder pelacak satelitnya berhenti mengirim sinyal, menurut data pelacakan kapal yang dihimpun Bloomberg. Posisi kedua kapal saat ini belum diketahui.
Dalam pelayaran sebelumnya, super tanker Universal Winner yang membawa minyak Kuwait ke Korea Selatan melintasi selat tersebut pada Mei melalui jalur yang diduga mendapat persetujuan otoritas Iran. Kapal Eneos Endeavor yang terkait Jepang juga melewati jalur sempit tersebut pada bulan yang sama dengan muatan minyak Kuwait dan Uni Emirat Arab.
Trader menyebut arus pengiriman sebelumnya kemungkinan dilakukan dengan bantuan perantara perdagangan lainnya.
Gangguan berkelanjutan terhadap transmisi transponder masih membuat pergerakan kapal sulit dipantau, sehingga jumlah pelayaran yang tercatat saat ini kemungkinan lebih rendah dibanding kondisi sebenarnya.
(bbn)





























