Logo Bloomberg Technoz

Adapun harga saham BBRI berhasil menguat 7,72% di posisi Rp2.790/saham usai sebanyak 870 juta saham ditransaksikan. Adapun nilai transaksi saham BBRI sepanjang hari ini mencapai Rp2 triliun lebih.

Terlebih lagi saham BMRI mencatatkan kenaikan 10,24% di posisi Rp4.090/saham. Nilai transaksi jual–beli saham BMRI mencapai 484 juta saham dengan nilai Rp1,87 triliun.

Berikut 10 saham yang 'menggendong' IHSG,

  1. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyumbang 31,53 poin
  2. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyumbang 29,89 poin
  3. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menyumbang 28,34 poin
  4. PT Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 28,25 poin
  5. PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) menyumbang 21,08 poin
  6. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menyumbang 18,54 poin
  7. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menyumbang 15,55 poin
  8. PT Astra International Tbk (ASII) menyumbang 12,43 poin
  9. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) menyumbang 11,27 poin
  10. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menyumbang 8,46 poin

Saham–saham unggulan LQ45 juga menopang laju IHSG. Misalnya PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melesat 21%, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) melejit 16,2%, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menguat 14,2%, dan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) meninggi 13,8%.

Menyusul saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Corp Tbk (INKP) menguat 12,6%, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terapresiasi 12,3%, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melaju dengan kenaikan 12%, dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menguat 12%.

Menyitir Phintraco Sekuritas, IHSG berhasil mengalami rebound. Sentimen positif antara lain berasal dari adanya berita Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendorong emiten BUMN untuk melakukan buyback saham. 

Selain itu, di luar jadwal RDG yang seharusnya dilakukan pada pekan depan, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,5%. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meredam pelemahan rupiah. Hal ini cukup diapresiasi positif, di mana rupiah menguat 0,65% di level Rp18.060/US$. 

Rupiah Ditutup Menguat pada 9 Juni (Bloomberg)

“Secara teknikal, setelah sehari sebelumnya IHSG sempat ditutup di bawah MA–200 monthly, IHSG berbalik menguat dan ditutup di atas level tersebut,” sebut riset Phintraco.

Secara chart harian, IHSG juga ditutup di atas level MA–5 dan sekaligus menutup gap up yang terbentuk sehari sebelumnya. Stochastic RSI membentuk golden cross di area oversold. Sehingga HSG diprediksi bergerak pada rentang 5.600–5.850.

Melansir riset Panin Sekuritas, IHSG berhasil rebound setelah sehari sebelumnya menyentuh level terendah sejak 2020 dan mencatat pelemahan selama lima sesi berturut–turut. 

Penguatan IHSG juga sejalan dengan Bursa AS yang ditutup menguat setelah Israel dan Iran menyepakati penghentian serangan, menyusul seruan Presiden AS Donald Trump agar keduanya segera menghentikan serangan. 

“Dari dalam negeri, kami menilai penguatan IHSG terjadi karena pasar mulai melihat valuasi sejumlah saham big caps di tengah melonjaknya pendapatan pajak di 5M26 yang dipandang Pemerintah sebagai indikasi membaiknya aktivitas ekonomi,” terang Philip dalam risetnya hari ini.

Biarpun begitu, pasar masih mencermati perkembangan tensi geopolitik di Timur Tengah, tekanan makro domestik, dan kekhawatiran atas cadangan devisa.

Senada, BRI Danareksa Sekuritas turut membeberkan 3 katalis utama di balik penguatan IHSG hari ini:

1. Kenaikan Suku Bunga BI

BI kembali menaikkan suku bunga 25 bps ke 5,5% untuk memperkuat stabilisasi rupiah. 

“Langkah ini menegaskan prioritas kebijakan kembali ke penguatan nilai tukar dan jangkar inflasi, sekaligus meningkatkan daya tarik aliran dana portofolio ke Indonesia,” terang BRI Danareksa.

2. Wacana Buy Back Saham Himbara

Muncul pembahasan antara DPR, Danantara, Himbara, BPJS, dan asuransi BUMN soal buyback saham bank–bank Himbara. 

“Ini sinyal positif untuk pasar, menunjukkan upaya stabilisasi domestik yang terkoordinasi setelah tekanan jual asing,” jelas BRI Danareksa dalam riset yang sama.

3. Klarifikasi Soal Ekspor

Pemerintah memastikan tidak ada mekanisme gross split dalam skema ekspor. Kekhawatiran pasar bahwa eksportir wajib menyerahkan sebagian hasil ekspor ke perantara negara kini mereda. Risiko gangguan ke arus kas eksportir berkurang.

“Ketiga katalis ini bersama–sama memperkuat sentimen positif dan mendorong rebound saham di IHSG,” tutup BRI Danareksa, Selasa.

(fad/naw)

No more pages