Versi terbaru dari apa yang disebut daftar 1260H Pentagon juga memasukkan kembali dua produsen chip memori asal China — ChangXin Memory Technologies Inc. dan Yangtze Memory Technologies Co. — yang sebelumnya telah dimasukkan dalam daftar oleh Pentagon namun dihapus dari versi yang sempat muncul sebentar pada bulan Februari.
Walau daftar tersebut tidak memiliki konsekuensi hukum langsung secara signifikan, Pentagon semakin sering menggunakannya untuk membatasi kemampuan perusahaan-perusahaan tersebut untuk bermitra dengan militer AS atau menerima dana penelitian.
Penetapan 1260H juga berfungsi sebagai peringatan bagi investor AS, dan secara luas dianggap sebagai tanda peringatan yang dapat mendahului pembatasan perdagangan yang lebih keras.
Belum ada perusahaan memberikan komentar saat dihubungi oleh Bloomberg News. Banyak di antaranya sebelumnya telah menolak klaim AS bahwa mereka mendukung militer China.
Kedutaan Besar China di Washington tidak memberikan komentar segera. Liu Pengyu, juru bicara kedutaan, sebelumnya mengatakan bahwa “China mendesak AS untuk segera memperbaiki praktik-praktik salahnya dan menyediakan lingkungan bisnis yang adil, jujur, dan tidak diskriminatif bagi perusahaan-perusahaan Tiongkok.”
Daftar tersebut dirilis kurang dari sebulan pasca Presiden Donald Trump bertemu dengan mitranya dari China, Xi Jinping, di Beijing, di mana kedua pemimpin membahas beberapa masalah pelik terkait perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut. KTT yang menjadi sorotan publik itu gagal menghasilkan pelonggaran yang signifikan dalam ketegangan seputar teknologi canggih, terutama AI.
“Daftar perusahaan militer China yang diterbitkan ulang oleh Pentagon berfungsi sebagai penyeimbang realitas pasca-KTT,” kata Craig Singleton, peneliti senior wilayah China di Foundation for Defense of Democracies. “Pertemuan Xi-Trump tidak menghentikan persaingan; pertemuan itu justru memperjelas di mana persaingan akan terus berlanjut,” kata Singleton, yang memantau penunjukan 1260H dengan cermat.
Dalam merilis daftar terbarunya, Pentagon mengatakan bahwa entitas yang disebutkan memenuhi syarat sebagai “perusahaan militer China” yang beroperasi secara langsung atau tidak langsung di AS berdasarkan dugaan aktivitas mereka “dalam menyediakan layanan komersial, manufaktur, produksi, atau ekspor.”
Bloomberg News melaporkan pada Mei bahwa keputusan awal Pentagon untuk menghapus YMTC dan CXMT adalah alasan daftar tersebut ditarik kembali dengan cepat pada Februari. Pejabat keamanan nasional Trump berpendapat bahwa menghapus produsen chip tersebut — terutama menjelang pertemuan yang direncanakan antara pemimpin AS dan China yang dijadwalkan pada akhir Maret — akan salah memberi kesan bahwa AS tidak lagi menganggap mereka sebagai ancaman, menurut sumber yang mengetahui masalah ini.
Para pejabat juga khawatir langkah tersebut akan memperkuat perusahaan-perusahaan China dengan mengorbankan Micron dan dua pemain memori utama lainnya dari sekutu AS, Korea Selatan: Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc., menurut sumber tersebut.
Segera setelah daftar tersebut dipublikasikan, satu pejabat senior Gedung Putih menghubungi Pentagon untuk menyampaikan keresahan karena kekhawatiran mereka diabaikan, dilaporkan Bloomberg. Pejabat pertahanan segera untuk menghapus daftar tersebut hanya beberapa menit setelah dipublikasikan.
Kejadian yang kalut tersebut memberi perusahaan kesempatan selama berbulan-bulan untuk mendesak perubahan melalui kombinasi lobi dan strategi hukum. Pada ujungnya, versi yang diterbitkan pada bulan Juni secara substansial mirip dengan versi yang diterbitkan pada bulan Februari dan kemudian ditarik kembali — kecuali untuk dimasukkannya kembali kedua produsen chip tersebut.
Kongres AS pertama kali memerintahkan Departemen Pertahanan untuk membuat daftar perusahaan militer Tiongkok yang beroperasi di AS pada tahun 1999. Pentagon akhirnya mulai melakukannya lebih dari dua dekade kemudian, setelah para pembuat undang-undang dan pemerintahan Trump yang pertama mengangkat kembali masalah ini.
Karena kebijakan “integrasi militer-sipil” China, di mana Beijing mewajibkan kolaborasi sektor swasta dengan angkatan bersenjata negara tersebut, Pentagon secara teoritis dapat membenarkan penetapan hampir semua perusahaan China yang memiliki kehadiran di AS.
Versi yang sempat diterbitkan pada Februari dan pada dasarnya diterbitkan kembali pada Senin ini merupakan salah satu pembaruan paling signifikan dalam sejarah daftar tersebut, yang menargetkan hampir 200 perusahaan — banyak di antaranya termasuk yang paling terkemuka di China.
John McEntee, mantan pejabat senior Gedung Putih era Trump yang menjadi lobi untuk Tencent, mengkritik pencantuman perusahaan tersebut yang terus berlanjut dalam daftar tersebut.
“Dengan memperluas daftar tersebut ke perusahaan mobil Tiongkok seperti BYD dan NIO, mereka justru memperlihatkan betapa konyolnya alasan yang dikemukakan. Menurut logika mereka, Ford dan GM seharusnya diklasifikasikan sebagai perusahaan militer Amerika,” kata dia.
Satu hal yang masih membingungkan dari pembaruan terbaru ini adalah penambahan TP-Link Technologies Co. Ltd. yang berbasis di China — yang berfokus pada penjualan router kepada pelanggan lokal — alih-alih TP-Link Systems Inc. yang berkantor pusat di AS, yang telah menjadi sorotan AS karena kemungkinan risiko keamanan nasional yang ditimbulkan oleh dominasinya di pasar router nirkabel.
Untuk dimasukkan ke dalam daftar, sebuah perusahaan harus beroperasi secara langsung atau tidak langsung di AS.
“Sebagai perusahaan berbasis di AS yang didirikan di California, TP-Link Systems Inc. tidak tunduk pada pengumuman ini atau pembatasan yang terkait,” kata juru bicara perusahaan. Ia menambahkan bahwa pendiri dan CEO TP-Link, Jeffrey Chao, tinggal di California “dan bukan serta tidak pernah menjadi anggota” Partai Komunis Tiongkok.
(bbn)





























