Logo Bloomberg Technoz

Jonathan menjelaskan, rebalancing MSCI merupakan proses penyesuaian komposisi dan bobot saham dalam indeks global. Ketika bobot suatu negara atau saham berubah, manajer investasi pasif yang menjadikan MSCI sebagai acuan perlu melakukan pembelian atau penjualan agar portofolionya tetap sesuai dengan indeks. 

Meski BBCA bukan termasuk saham yang dikeluarkan dari indeks utama, saham berkapitalisasi besar tersebut tetap dapat terdampak karena investor global perlu menyesuaikan bobot Indonesia secara keseluruhan. Dalam kondisi seperti itu, saham paling likuid kerap menjadi sasaran transaksi besar karena paling mudah digunakan untuk mengatur eksposur portofolio. 

“BBCA itu sangat likuid dan bobotnya besar. Jadi ketika ada fund yang harus mengurangi eksposur Indonesia, saham seperti BBCA bisa ikut tertekan meskipun fundamentalnya tidak berubah. Ini yang membuat koreksinya terlihat dalam pada hari rebalancing,” ujar Jonathan. 

Menurut Jonathan, tekanan teknis semacam itu biasanya mencapai puncaknya pada hari efektif rebalancing. Setelah proses penyesuaian selesai, pergerakan saham kembali lebih banyak ditentukan oleh fundamental, valuasi, sentimen pasar, serta arah dana asing. Di sektor perbankan, BBCA bukan hanya memiliki fundamental dan kinerja laba yang kuat, juga konsisten membagikan dividen.  

“Kalau BBCA bisa bertahan di atas Rp5.700 dan foreign sell mulai mereda, peluang rebound ke area Rp5.850 sampai Rp6.000 cukup terbuka. Tetapi kalau tekanan asing masih besar, saham ini masih bisa bergerak volatil lebih dulu,” kata Jonathan. 

Ke depan, arah BBCA akan kembali dipengaruhi kinerja fundamental perseroan. BCA masih memiliki profil profitabilitas yang kuat, kualitas aset terjaga, likuiditas solid, dan basis dana murah yang besar. 

Sentimen positif juga datang dari rencana pembagian dividen interim sebanyak tiga kali pada 2026. BCA menyatakan rencana tersebut menjadi bagian dari komitmen perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada pemegang saham, terutama investor ritel. 

“Setelah tekanan MSCI selesai, investor akan kembali melihat kualitas emiten. Untuk BBCA, faktor yang akan diperhatikan adalah pertumbuhan laba, kualitas kredit, dana murah, dan dividen. Jadi kalau fundamental tetap kuat, koreksi akibat rebalancing bisa dilihat sebagai tekanan sementara,” ujar Jonathan. 

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati arah IHSG dan aliran dana asing. Jika tekanan asing di pasar saham domestik masih berlanjut, BBCA masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. 

Worst case dari sisi teknis MSCI berpotensi sudah lewat. Selanjutnya, BBCA akan kembali diuji oleh fundamentalnya. Dan sejauh ini, fundamental BBCA masih menjadi salah satu yang paling solid di sektor perbankan,” kata Jonathan.

(tim)

No more pages