Logo Bloomberg Technoz

BBCA Dinilai Menarik, Analis Soroti Fundamental yang Kuat

Redaksi
23 June 2026 10:40

Bank BCA (Dimas Ardian/Bloomberg)
Bank BCA (Dimas Ardian/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, JakartaTekanan terhadap IHSG masih belum usai di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah serta arus modal asing yang keluar dari Indonesia.

Namun di tengah volatilitas tersebut, sejumlah analis justru melihat peluangmenarik pada saham-saham berfundamental kuat, termasuk PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

DBS dalam riset terbarunya menilai kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia cenderung berlebihandan sudah banyak tercermin pada valuasi saham saat ini. Meski menurunkan target IHSG akhir tahun menjadi 8.000, DBS masih memperkirakan fundamental korporasi Indonesia tetap cukup tangguh dengan pertumbuhan labaperusahaan sekitar 7,5% pada 2026.

Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, investor dinilai semakin selektif dan cenderung mencari emitendengan visibilitas laba yang tinggi, kualitas aset yang kuat, serta model bisnis yang defensif. Atas dasar tersebut, DBS tetap menempatkan BBCA sebagai pilihan utama di sektor perbankan.

BBCA tetap menjadi pilihan utama kami di sektor perbankan berkat posisi likuiditas yang kuat, pertumbuhan kredityang konservatif, serta kualitas aset yang unggul." Tulis DBS dalam risetnya.

DBS menjelaskan bahwa kekuatan utama BBCA terletak pada rasio dana murah (CASA) yang merupakan salah satuyang tertinggi di industri perbankan nasional. Struktur pendanaan tersebut dinilai mampu membantu bank menjagabiaya dana tetap kompetitif meskipun suku bunga masih berada pada level yang relatif tinggi.

Selain itu, kualitas aset yang terjaga serta disiplin dalam pengelolaan modal membuat BBCA dinilai lebih siapmenghadapi kondisi likuiditas yang semakin ketat dibandingkan bank-bank besar lainnya.

Bahkan, menurut DBS, BBCA memiliki rasio CASA terbaik di industri, kualitas aset yang unggul, serta pengelolaanmodal yang disiplin. Keunggulan tersebut dinilai menjadi fondasi utama yang menjaga kepercayaan investor terhadap BBCA selama bertahun-tahun, termasuk ketika pasar menghadapi tekanan.

Di sisi lain, koreksi harga saham yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir telah membawa valuasi BBCA ke level yang semakin menarik. DBS mencatat bahwa valuasi BBCA sempat turun ke kisaran yang terakhir kali terlihat saatkrisis keuangan global 2008 sebelum kembali mengalami pemulihan.

"Pada level saat ini, valuasi BBCA seolah mencerminkan pelemahan ekonomi dan penurunan kinerja yang lebihburuk dibandingkan periode pandemi, suatu skenario yang kami nilai kecil kemungkinannya terjadi kecuali terdapatguncangan negatif yang sangat material," sebagaimana dikutip dari riset DBS.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa harga saham BBCA saat ini telah mengakomodasi berbagai skenarionegatif, mulai dari pelemahan ekonomi domestik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga perlambatanpertumbuhan sektor perbankan. Namun, DBS menilai kondisi fundamental yang ada saat ini belum menunjukkanindikasi yang mengarah pada skenario ekstrem tersebut.

Analis DBS juga menilai musim laporan keuangan kuartal kedua akan menjadi ujian penting bagi pasar. Apabilakinerja emiten-emiten besar, khususnya sektor perbankan, tetap menunjukkan ketahanan di tengah tekananmakroekonomi, maka ruang pemulihan valuasi pasar akan semakin terbuka.

Dengan posisi likuiditas yang solid, kualitas aset yang unggul, serta valuasi yang telah terkoreksi signifikan, BBCA dinilai tetap menjadi salah satu saham unggulan untuk menghadapi gejolak pasar yang masih berlangsung. Saatsentimen pasar masih berfluktuasi, kombinasi fundamental yang defensif dan valuasi yang menarik menjadi alasanutama mengapa BBCA masih menjadi pilihan favorit sejumlah analis.