Logo Bloomberg Technoz

Berdasarkan unggahan di platform X, Presiden Pezeshkian menyatakan dalam sambungan telepon tersebut bahwa negaranya akan memastikan kapal-kapal Jepang dapat melewati Selat Hormuz dengan "lebih mudah dan tanpa masalah."

Namun, Pezeshkian menambahkan bahwa masalah utama sebenarnya bersumber dari pembatasan dan hambatan yang dijatuhkan oleh AS terhadap aktivitas pelayaran dan perdagangan Iran. Unggahan tersebut terpantau sudah tidak tersedia pada Selasa (2/6) pagi, dan belum dapat dipastikan apakah postingan itu sengaja dihapus atau tidak.

Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, mengatakan percakapan telepon dengan Iran berlangsung pada momen yang sangat krusial bagi perundingan antara AS dan Iran.

"Kami akan terus mendukung upaya diplomatik negara-negara mediator dan melanjutkan diplomasi kami sendiri secara konsisten semaksimal mungkin, bekerja sama erat dengan negara-negara lain untuk mendorong tercapainya kesepakatan antara Iran dan AS secepatnya," kata Kihara dalam konferensi pers rutin pada Selasa pagi.

Sebagai negara yang minim sumber daya alam, Jepang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Karena itu, semakin lama krisis di kawasan tersebut berlangsung, semakin besar pula dampaknya terhadap perekonomian Jepang.

Perusahaan pelayaran Jepang dikenal sangat berhati-hati. Sejak Teheran secara efektif menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, hanya sedikit kapal yang berafiliasi dengan Jepang yang melintas di jalur tersebut.

Sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) kosong sempat melintasi selat itu pada awal April. Kapal Idemitsu Maru kemudian menjadi kapal tanker minyak mentah raksasa pertama milik Jepang yang melakukan perjalanan tersebut pada akhir bulan yang sama. Sementara itu, supertanker Eneos Endeavor melakukan pelayaran langka secara diam-diam melalui perairan tersebut pada Mei.

Saat itu, Takaichi mengungkapkan melalui media sosial bahwa masih terdapat 39 kapal yang berafiliasi dengan Jepang berada di Teluk Persia, termasuk satu kapal yang diawaki kru asal Jepang.

Kondisi tersebut bahkan telah mendorong Takaichi mengusulkan anggaran tambahan untuk mendanai respons pemerintah terhadap krisis Timur Tengah. Kebutuhan energi selama musim panas yang akan datang serta upaya menekan biaya energi kini menjadi perhatian utama pemerintah dan masyarakat Jepang.

Pemerintah Jepang berencana menggunakan sekitar US$3,2 miliar dari dana cadangan dalam anggaran tahunan tahun ini untuk membiayai subsidi energi. Anggaran tambahan yang diajukan nantinya akan digunakan untuk menambah kembali dana cadangan yang mulai menipis tersebut.

(bbn)

No more pages