Perkembangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Ada kabar yang saling bertolak belakang.
Di satu sisi, media Iran melaporkan bahwa komunikasi dengan Amerika Serikat (AS) ditunda. Ini karena Israel terus saja menggempur Lebanon.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa diskusi dengan Teheran masih berjalan. Kesepakatan bahkan disebut-sebut bisa tercapai paling cepat awal pekan depan, terutama soal pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kabar yang bertentangan ini membuat harga minyak kembali melonjak. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup naik 4,24% ke US$ 94,98/barel.
Saat harga energi masih tidak terkendali, maka dunia akan diteror oleh ancaman inflasi tinggi. Alhasil, sulit bagi bank sentral di berbagai negara untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)





























