Laju harga emas tertahan seiring kenaikan harga minyak dunia. Pada pukul 08:06 WIB, harga minyak jenis brent melesat 2,22% ke US$ 93,15/barel.
Peningkatan tensi di Timur Tengah menjadi pendongkrak harga si emas hitam. Akhir pekan lalu, Iran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait yang mengakibatkan kerusakan minim.
Sementara Israel mengintensifkan gempuran ke kelompok Hizbullah di Lebanon.
Anehnya, ini semua terjadi kala AS dan Iran sebenarnya dikabarkan tengah berdialog membahas perdamaian. Meski belum ada kejelasan mengenai hasil dari dialog tersebut.
“Negosiasi AS-Iran masih menjadi perhatian utama pelaku pasar, dan akan menjadi sumber volatilitas. Risikonya adalah investor terlanjur terbuai dengan propaganda pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengenai tercapainya kesepakatan, sedangkan di pihak Iran masih bersikeras mengenai sejumlah isu,” jelas Kyle Rodda, Analis Senior di Capital.com, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Saat harga energi masih tinggi, maka bank sentral di berbagai negara akan kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan akibat ancaman inflasi. Ini tentu bukan kabar baik bagi emas yang berstatus sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
(aji)





























