Pasar bergerak fluktuatif karena para pelaku pasar terus menilai apakah konflik Timur Tengah akan mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Harapan terhadap solusi diplomatik sempat meredakan kekhawatiran mengenai harga energi dan inflasi, namun sinyal yang berbeda dari Washington dan Teheran membuat investor tetap waspada.
“Pembeli panik sudah mulai hilang, dan pasar mulai menyadari bahwa kita sebenarnya tidak akan kehabisan minyak,” kata Senior Vice President Trading BOK Financial Securities Inc, Dennis Kissler. “Situasi ini bisa berubah jika kapal pengangkut minyak besar diserang di selat tersebut, tetapi saya yakin Iran dan AS kini sama-sama menginginkan kesepakatan.”
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan, “kita akan melihat dalam beberapa jam dan hari ke depan apakah kemajuan dapat dicapai” terkait Iran. Ia menambahkan Utusan Khusus AS Steve Witkoff, Jared Kushner, dan Wakil Presiden JD Vance “terlibat sangat aktif” dalam proses tersebut.
“Pasar saham memiliki keyakinan yang cukup bahwa solusi dengan Iran pada akhirnya akan tercapai, meskipun tidak dalam waktu dekat,” ujar Alexander Guiliano dari Resonate Wealth Partners. “Walaupun terlihat saham telah naik terlalu cepat, kita baru saja mengalami koreksi normal dua bulan lalu yang membantu memperbaiki sentimen pasar.”
Saham-saham AS menutup perdagangan Rabu hampir di level pembukaan, karena investor mengambil keuntungan dari saham teknologi namun tetap optimistis bahwa perang di Timur Tengah akan segera berakhir.
Meski perdagangan berlangsung naik-turun sepanjang hari, para analis Wall Street secara umum masih optimistis terhadap pasar saham, dengan indeks S&P 500 tetap berada di dekat rekor tertinggi sepanjang masa.
Musim laporan keuangan kuartal pertama yang disebut “sangat kuat” mendorong analis Goldman Sachs Group Inc. yang dipimpin Ben Snider menaikkan target akhir tahun untuk S&P 500 menjadi 8.000 poin dari sebelumnya 7.600 poin. Goldman mengikuti Morgan Stanley dan Deutsche Bank AG yang juga memproyeksikan indeks acuan tersebut akan ditutup di level 8.000 poin pada akhir tahun.
Di sisi lain, obligasi pemerintah AS memangkas penguatannya sehingga imbal hasil bergerak relatif tidak berubah di berbagai tenor setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun, yang selalu ditutup di atas 5 persen sejak 12 Mei, sempat turun ke sekitar 4,98 persen sebelum kembali berada di kisaran 5,01 persen.
Belum tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik mengancam memperpanjang gangguan pasokan minyak, yang sejak akhir Februari memicu lonjakan tajam imbal hasil obligasi akibat meningkatnya kembali tekanan inflasi. Bank-bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebagai respons.
Investor dan trader saat ini “menunggu sesuatu yang konkret dari AS dan Iran yang menandakan konflik benar-benar akan berakhir,” ujar portfolio manager Brandywine Global Investment Management, Jack McIntyre, sambil menunjuk pada “penguatan obligasi Treasury bersamaan dengan turunnya harga minyak.”
(bbn)


























