"Tekanan LPG hanya sekitar 5 sampai 10 bar. Sementara itu, tekanan CNG jauh lebih tinggi, bisa mencapai 250 bar. Karena tekanannya belasan hingga puluhan kali lipat, tingkat keamanannya tabung akan sangat krusial," terang Moshe.
Ruang Penyimpanan
Secara volume energi, Moshe menjelaskan CNG membutuhkan ruang penyimpanan yang 2,5 kali lebih besar daripada LPG untuk menghasilkan jumlah kalori panas yang sama.
“Ketika gas tersebut dipaksa masuk ke dalam tabung portabel rumah tangga, tekanan harus dinaikkan hingga puluhan kali lipat dari LPG. Lonjakan tekanan inilah yang mengubah prasyarat material menjadi sangat mahal dalam hal ini carbon fiber,” jelasnya.
Selain modal untuk pembuatan tabung, Moshe menambahkan pemerintah juga harus memikirkan mengenai tempat atau fasilitas pengisian khusus CNG yang biasa dikenal sebagai stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG).
“Kalau mau dimasifkan harus ditambah [SPBG]. Ini biasanya ada sistem keamanan khusus untuk mencegah kebocoran, dispenser tekanan tinggi, alat grounding [antistatis]. Jadi enggak bisa sembarangan isinya [CNG],” jelasnya.
Sebelumnya, Kementerian ESDM sedang mengkaji penggunaan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit serta fiberglass.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan dalam waktu tiga bulan ke depan pemerintah akan melakukan uji coba pengembangan tabung CNG dengan volume 3 kg.
Usai uji coba, produksi tabung CNG 3 kg bakal dimasifkan sehingga dapat segera digunakan masyarakat untuk konversi penggunaan gas melon atau LPG 3 kg.
“Ini bukan di tahap kajian ya, ini sudah di tahap implementasi. Mengapa harus ada tabung ini, cuma tabung ini kan yang belum ada itu cuma tipe 4 untuk 3 kg. Itulah yang dikejar dalam waktu Pak Menteri sampaikan 3 bulan ke depan itu sudah ada tipe 4 untuk 3 kg dan dari situ nanti kita sudah mulai memproduksi dalam jumlah yang lebih masif,” kata Laode dalam diskusi publik di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026).
Di sisi lain, Laode juga memastikan penggunaan CNG dalam tabung 3 kg untuk kebutuhan rumah tangga tidak memerlukan penggantian kompor. Dengan begitu, kompor LPG yang saat ini digunakan masyarakat dapat langsung menggunakan CNG.
Dia memastikan masyarakat tak perlu menyesuaikan kompor yang dimiliki dengan memasang pengonversi (converter) atau alat lainnya.
“Dan apinya lebih panas juga, apinya tetap lebih biru malah kalau saya perhatikan seperti itu. Nah itulah yang sekarang makanya Lemigas dalam setiap tahapan-tahapan uji tabung kita lakukan, kemudian uji tekan, dan lain-lain ini memang faktor yang paling penting,” tegas Laode.
Dalam kesemoatan berbeda, Laode juga menyebut Kementerian ESDM akan mengimpor 100.000 unit tabung CNG 3 kg dari China. Langkah tersebut dilakukan lantaran industri dalam negeri belum mampu memproduksi tabung CNG 3 kg.
"Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (18/5/2026).
"Iya [impor dari China], seperti itu tahap awal ya," tambahnya.
(smr/wdh)































