Moskow menyatakan akan terus melakukan serangan balasan secara sistematis. Dalam pernyataan terpisah pada Senin, Kremlin mendesak seluruh warga negara asing, termasuk staf misi diplomatik dan perwakilan organisasi internasional, untuk segera meninggalkan Kyiv. Kremlin juga menyarankan warga ibu kota Ukraina menjauhi infrastruktur militer dan administrasi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina Heorhiy Tykhyi mengatakan ancaman Rusia terhadap Kyiv bukan hal baru mengingat serangan terus-menerus terhadap ibu kota tersebut selama perang berlangsung. Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS belum memberikan komentar terkait pernyataan Lavrov.
Dalam percakapannya dengan Rubio, Lavrov juga menuduh Eropa dan Ukraina merusak kesepakatan yang dicapai Putin dengan Presiden AS Donald Trump dalam KTT tahun 2025 di Alaska. Kedua pejabat juga membahas krisis di Selat Hormuz dan situasi terkait Kuba, menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.
Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari tahun lalu dengan janji mengakhiri cepat konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Namun, lebih dari 16 bulan diplomasi belum menghasilkan terobosan berarti.
Seperti dilaporkan Bloomberg, AS sebelumnya mendorong agar Ukraina melepaskan wilayah Donbas yang mencakup Donetsk dan Luhansk, jika Moskow setuju membekukan konflik di garis pertempuran saat ini dan mencabut klaim atas wilayah Zaporizhzhia dan Kherson yang masih dikuasai Ukraina. Seluruh wilayah tersebut secara internasional diakui sebagai bagian kedaulatan Ukraina.
Rubio belakangan menyampaikan pandangan pesimistis mengenai peluang tercapainya kesepakatan damai Ukraina dalam waktu dekat.
“Sepertinya saat ini tidak ada pihak lain di dunia yang mampu menangani hal ini,” ujar Rubio kepada wartawan pada 22 Mei. “Kami dengan senang hati akan melakukannya jika ada peluang untuk pembicaraan yang konstruktif dan produktif. Namun kami juga tidak tertarik terlibat dalam siklus pertemuan tanpa akhir yang tidak menghasilkan apa-apa.”
(bbn)































