Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim melaporkan beberapa detail serupa dan menambahkan kemungkinan pelonggaran sanksi minyak yang juga mencakup produk petrokimia. Namun, sinyal dari Teheran mengenai kondisi negosiasi masih beragam.
Para pejabat Iran mengatakan pembicaraan dengan AS untuk mengakhiri konflik terus mengalami kemajuan, dan sejumlah poin perselisihan utama dapat diselesaikan kemudian. Namun kantor berita semi-resmi Fars pada Minggu dini hari menepis klaim Trump soal kesepakatan yang segera tercapai sebagai “jauh dari kenyataan.” Laporan itu tidak menyebutkan sumber.
Status masa depan Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, tetap menjadi faktor penting. Penutupan efektif selat tersebut setelah AS dan Israel meluncurkan perang terhadap Iran pada 28 Februari telah memicu krisis energi global dan menambah tekanan ekonomi bagi banyak negara di luar Timur Tengah.
Republik Islam Iran ingin mengenakan pungutan terhadap kapal yang melintasi selat itu dan mendesak AS untuk mencairkan “sebagian signifikan” aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Iran juga menolak tuntutan untuk menyerahkan uranium dan menghentikan pengayaan, sambil menegaskan tidak berniat membuat bom atom.
Pakistan serta negara-negara kawasan seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Mesir, Turki, dan Qatar turut berperan dalam negosiasi untuk memperpanjang gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung enam minggu. Trump pada Sabtu berbicara dengan sejumlah pemimpin negara tersebut mengenai apa yang ia sebut sebagai “Memorandum of Understanding terkait Perdamaian.”
Ribuan orang telah tewas sejak konflik pecah, sebagian besar di Iran dan Lebanon. Iran membalas dengan meluncurkan serangan drone dan rudal ke negara-negara Teluk Persia.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Sabtu mengatakan Washington tetap bersikeras bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan harus menyerahkan uranium yang telah diperkaya tingkat tinggi.
“Pilihan utama presiden selalu menyelesaikan masalah seperti ini melalui solusi diplomatik yang dinegosiasikan,” katanya kepada wartawan saat kunjungan ke India.
Uni Emirat Arab bergabung dengan Qatar dan Arab Saudi dalam meminta Trump memberi lebih banyak waktu bagi proses negosiasi, menurut sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Lantaran konflik belum berakhir, harga minyak masih bertahan di atas US$100 per barel. Kenaikan biaya bahan bakar di AS turut meningkatkan tekanan politik domestik terhadap Trump untuk mencapai kesepakatan, terutama menjelang pemilu sela November yang akan menentukan kendali Kongres.
Namun, dengan membuat kesepakatan, Trump juga berisiko dipersepsikan mengalami kekalahan strategis bagi AS. Sejumlah sekutu Trump yang berhaluan keras mendesaknya untuk melanjutkan kampanye pengeboman hingga seluruh target yang telah dinyatakannya tercapai.
(bbn)



























