Logo Bloomberg Technoz

Perajin Tahu Menahan Harga, Mengikis Laba Buntut Kedelai Naik

Andrean Kristianto
09 October 2026 20:26

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menuangkan kedelai ke wadah di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menuangkan kedelai ke wadah di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pekerja menuangkan kedelai ke wadah di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di Duren Tiga, Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kenaikan harga kedelai impor di tengah penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah mulai dirasakan perajin tahu di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Untuk mempertahankan penjualan, mereka memilih cara berbeda, mulai dari mengurangi ukuran tahu hingga mempertahankan harga dengan keuntungan yang lebih kecil.

“Kedelainya naik terus, paling sekarang dikecilin paling sesenti, biasanya 100 jadi 110, udah ada seminggu,” kata Nas, perajin tahu di Duren Tiga, Jakarta Selatan, Kamis (8/10).

Nas mengaku terpaksa memperkecil ukuran tahu agar harga jual tetap terjangkau bagi pembeli. Ia tidak berani menaikkan harga karena khawatir kehilangan pelanggan.

Berbeda dengan Nas, Sandi tetap menjual tahu dengan ukuran dan harga yang sama meski harga bahan baku meningkat. Keputusan tersebut membuat keuntungan yang diperolehnya semakin berkurang.

“Susah bang jualnya sekarang, kalau dikecilin malah ga laku, tapi keuntungan jadi mengecil,” ungkap Sandi kepada Bloomberg Technoz.

Di tengah kenaikan harga kedelai impor yang mendekati Rp12.000 per kilogram, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan anggaran Rp100 miliar untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kedelai pada semester II/2026. Penyaluran bantuan akan dilakukan secara terukur dengan memprioritaskan daerah yang mengalami harga di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat perajin.

Seperti diketahui, pemerintah menetapkan HAP kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe maksimal Rp12.000 per kg. Sementara itu, HAP kedelai lokal ditetapkan maksimal Rp11.400 per kg berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 330 Tahun 2026.

(dre)