Logo Bloomberg Technoz

Wisatawan Lokal Enggan ke Bali, Bisakah Pariwisata Tetap Hidup?

Dinda D
09 October 2026 19:20

⁠Pakaian adat bali, ⁠kebaya, udeng, payas alit dan gaya rambut perempuan Bali (Envato)
⁠Pakaian adat bali, ⁠kebaya, udeng, payas alit dan gaya rambut perempuan Bali (Envato)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Permasalahan pelayanan terhadap wisatawan di Bali hingga munculnya wacana seleksi wisatawan serta boikot mengunjungi Bali, dianggap bisa memengaruhi minat kunjungan, terutama wisatawan domestik. 

Jika wisatawan lokal mulai enggan berlibur ke Pulau Dewata, keberlanjutan pariwisata Bali menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan di tengah upaya pemerintah daerah menjaga kualitas destinasi.

Pakar pariwisata, Sari Lenggogeni, mengatakan keputusan wisatawan untuk berkunjung tidak hanya ditentukan oleh daya tarik destinasi, tetapi juga faktor emosional, persepsi risiko, citra destinasi, dan pengalaman selama berwisata.


"Kalau dalam tourist behavior (kebiasaan pelancong) itu tidak hanya dipengaruhi pull factors, ya, ada pula push factor, ada sekali lagi, emotional value, atau nilai emosional, ada persepsi risiko dan citra destinasi serta pengalaman lain," kata Sari saat dihubungi Bloomberg Technoz, Jumat (09/10).

Meski demikian, Sari menilai wacana seleksi wisatawan masih perlu dilihat lebih lanjut karena belum diketahui apakah usulan tersebut sudah diterapkan. Menurut dia, pengelola destinasi di Bali seharusnya berfokus memulihkan persepsi publik agar wisatawan domestik maupun mancanegara tetap merasa diterima.