Logo Bloomberg Technoz

Terkait investasi, Kardaya menekankan Indonesia perlu lebih memperhatikan hal-hal penting yang dapat mendorong secara cepat investasi hulu migas, misalnya data terkait potensi hulu migas yang jelas, nilai keekonomian yang pasti, serta kekuatan legalitas dan hukum. 

“Nah pertama dilihat, kalau potensinya enggak ada, ya udah [investor] enggak bakalan masuk,” jelasnya. 

“Lalu bagaimana sistem fiskalnya, pembagiannya dengan pemerintah dan bagaimana dengan keekonomiannya,” tambahnya.

Investasi sektor migas, sebut dia, adalah investasi besar karena termasuk sektor padat modal, sehingga hasilnya harus sebanding dengan investasi yang ditanamkan. 

“Bagaimana animo [investasi] masuk ke Indonesia? Sekarang menurun. Yang sudah di dalam pun, pada waktu itu saya lihat, saya tidak perlu menyebutkan perusahaan mana, itu menjual [lapangan migas],” ungkapnya.

“Supaya investor mau, bagi investor yang paling penting adalah kepastian,” tambahnya. 

Dalam kesimpulannya, Kandaya mengatakan win-win solution adalah satu-satunya jalan agar pemerintah bisa mengembangkan investasi hulu migas lebih jauh di Indonesia.

“Intinya kita mau win-win solution kan Pak? Dan harusnya jangan sampai salah diagnosa tadi, apa yang dikasih tidak sesuai. Jadi, resepnya atau resep dokternya ini enggak pas, jadi tanya dulu yang sakitnya [kebutuhan investor apa], baru diobatin,” ungkapnya. 

Untuk diketahui, realisasi investasi migas nasional sepanjang tahun 2025 mencapai US$17,99 miliar (sekitar Rp296 triliun), dengan rincian investasi hulu sebesar US$15,42 miliar (sekitar Rp253,7 triliun) dan investasi hilir menyentuh angka US$2,59 miliar.

Sedangkan target investasi hulu migas nasional pada tahun 2026 dipatok lebih rendah yaitu sebesar US$16 miliar (sekitar Rp252 triliun dengan kurs Rp15.800).

Adapun, pemerintah melalui SKK Migas menargetkan sembilan proyek strategis hulu migas mulai beroperasi (onstream) pada tahun ini dengan total investasi mencapai US$1,3 miliar.

(smr/ros)

No more pages