Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklaim proses engineering, procurement, and construction (EPC) Blok Tuna bakal dimulai dalam waktu dekat dan ditargetkan dapat onstream paling cepat pada 2028.

Bahlil menjelaskan operator Blok Tuna terdahulu, Harbour Energy Plc, sudah menyelesaikan proses pelepasan hak partisipas-nya di Blok Tuna ke Prime Group. Dengan begitu, dia bakal mendorong agar proses EPC dapat dilakukan secara cepat.

“Nah itu, kemarin dari Harbour Inggris, itu sudah melepas sebagian sahamnya untuk pengusaha nasional. Jadi saya pikir itu sebentar lagi sudah EPC sudah jalan. Kita targetkan untuk bisa melakukan percepatan produksinya pada 2028, paling lama 2029,” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).

Sekadar informasi, Harbour Energy menandatangani kesepakatan jual beli atau purchase and sale agreement (PSA) untuk menjual seluruh hak partisipasinya di Blok Tuna kepada Prime Group.

Transaksi saham blok migas itu masih bergantung pada persetujuan pemerintah. Kendati demikian, Harbour Energy menargetkan divestasi rampung pada kuartal II-2026.

“Transaksi ini menandai tonggak penting bagi Harbour di Indonesia dan mendukung strategi kami untuk memfokuskan modal serta sumber daya pada peluang-peluang yang paling kompetitif dan material,” kata Managing Director Unit Bisnis Indonesia Harbour Energy Steve Cox lewat keterangan resmi.

Proyek yang berdekatan dengan Vietnam itu telah mendapat persetujuan rencana pengembangan atau plan of developement (PoD) sejak Desember 2022.

Ladang gas itu sebelumnya dikerjakan kongsi Zarubezhneft lewat anak usahanya ZAL bersama dengan entitas Harbour Energy di Indonesia, Premier Oil Tuna B.V.

Sebelumnya, dua perusahaan itu masing-masing memegang 50% hak partisipasi atau participating interest (PI), dengan Premier Oil sebagai operator blok.

Hanya saja, konsorsium Premier Oil dan Zarubezhneft Asia tidak kunjung meneken keputusan investasi akhir. Alasannya, terdapat sanksi yang dikenakan kepada Zarubezhneft akibat invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022.

Blok Tuna diestimasikan memiliki potensi gas di kisaran 100—150 million standard cubic feet per day (MMSCFD), menurut data Kementerian ESDM. Adapun, investasi pengembangan lapangan hingga tahap operasional ditaksir mencapai US$3,07 miliar.

(azr/ros)

No more pages