Logo Bloomberg Technoz

Direktur Eksekutif APBI Gita Maharyani mengungkapkan pada awal tahun ini penambang lebih berhati-hati melakukan ekspansi gegara kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 mengalami pemangkasan.

Gita menjelaskan pemangkasan produksi melalui RKAB memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi aktivitas produksi, pengangkutan, penjualan, dan jasa pendukung pertambangan.

Selain itu, dia menyatakan, saat ini perusahaan pertambangan batu bara bukan berhenti melakukan ekspansi, tetapi memilih untuk menyesuaikan kembali rencana kerja dan investasi pendukung.

Gita menegaskan keputusan ekspansi tambang sangat bergantung pada kepastian volume produksi, keekonomian tambang, harga, dan kepastian regulasi.

“Ketika volume produksi dikurangi cukup signifikan, perusahaan tentu akan menghitung ulang skala operasi agar tetap efisien dan tetap memenuhi kewajiban DMO,” kata Gita ketika dihubungi, Kamis (7/5/2026).

Di sisi lain, Gita menyatakan permintaan batu bara global saat ini sedang melemah, utamanya dari negara sumber ekspor Indonesia seperti China dan India.

Gita mencatat kedua negara tersebut tengah menahan impor sebab stok masih tinggi dan produksi domestik meningkat.

“Sementara itu, ekspor ke Jepang naik, salah satunya karena switching dari LNG [gas alam cair], sedangkan Korea Selatan dan Taiwan mengalami penurunan,” jelas Gita.

Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 5,61% secara year on year (yoy).

Berdasarkan lapangan usaha, industri pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi 2,14%, serta industri pengadaan listrik dan gas yang mengalami kontraksi sebesar 0,99%.

Lapangan usaha lainnya, padahal, tercatat tumbuh pada awal tahun ini.

Industri pengolahan tumbuh 5,04%; perdagangan, reparasi mobil, dan sepeda motor tumbuh 6,26%; pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,97%; transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04%; penyediaan akomodasi dan makanan minuman tumbuh 13,14%; serta jasa lainnya tumbuh 9,91%.

Kementerian ESDM memangkas target produksi batu bara pada tahun ini di dalam RKAB 2026. Produksi batu bara pada RKAB 2026 menjadi sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 790 juta ton.

Adapun, produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton. Realisasi produksi batu bara itu anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sebesar 836 juta ton. Kendati demikian, produksi itu lebih tinggi dari target yang dipatok tahun ini sebesar 739,6 juta ton.

Sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi, sementara untuk pasar domestik atau DMO mencapai 254 juta ton atau 32%.

Adapun, stok batu bara yang dicadangkan sampai akhir 2025 sebesar 22 juta ton atau 2,8% dari keseluruhan produksi tambang.

(azr/wdh)

No more pages