Logo Bloomberg Technoz

Pada bulan lalu, Federal Reserve (The Fed) memilih untuk menahan suku bunga acuan, di mana beberapa pejabat bank sentral menunjuk tingginya ketidakpastian seputar dampak ekonomi akibat perang di Iran. Kendati demikian, tiga pembuat kebijakan menyatakan perbedaan pendapat. Mereka mendukung keputusan menahan suku bunga, tetapi menolak klausul dalam pernyataan setelah rapat yang memberi sinyal bahwa langkah suku bunga berikutnya kemungkinan besar adalah pemotongan.

Dalam beberapa hari terakhir, imbal hasil (yield) obligasi global melonjak tajam karena para investor bereaksi terhadap lonjakan baru harga energi. Pasar kini mulai memasang taruhan yang lebih tinggi pada potensi kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

"Saya pikir ini hal yang sehat bahwa para pelaku pasar mulai memperhitungkan skenario di mana suku bunga tetap tidak berubah untuk periode yang lama, serta skenario di mana pengetatan moneter lebih lanjut menjadi diperlukan," kata Paulson pada Selasa.

Dalam sesi tanya jawab setelah pidatonya, Paulson mengatakan sebagian besar pergerakan terbaru pada imbal hasil obligasi jangka panjang dipicu oleh kenaikan yang dipersepsikan pada “real rates” atau suku bunga riil, bukan oleh meningkatnya ekspektasi inflasi.

Dalam pidato tertulisnya, ia menyebut pasar tenaga kerja diperkirakan tetap stabil dan tekanan harga akan “secara bertahap kembali” ke target 2 persen. Namun, ia menegaskan risiko terhadap mandat pengendalian inflasi kini “meningkat”.

Menurutnya, arah kebijakan ke depan sangat bergantung pada seberapa lama perang mengganggu pasokan minyak dan barang lainnya.

“Jika konflik di Timur Tengah segera terselesaikan dan pengiriman serta produksi minyak kembali normal dengan cepat, inflasi dan risiko inflasi kemungkinan juga akan mereda relatif cepat,” ujarnya. “Namun jika penyelesaiannya memerlukan waktu lebih lama, maka inflasi, risiko inflasi, serta risiko terhadap pasar tenaga kerja kemungkinan akan tetap tinggi lebih lama.”

Gubernur The Fed Philadelphia yang tahun ini memiliki hak suara dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter itu juga menyoroti tantangan yang dihadapi keluarga di AS akibat tingginya harga energi. Banyak konsumen, kata dia, beralih dari merek premium ke produk yang lebih murah, sementara sebagian rumah tangga semakin bergantung pada kartu kredit untuk mempertahankan tingkat konsumsi mereka. Meski demikian, belanja masyarakat secara keseluruhan masih dinilai cukup kuat.

“Walaupun banyak keluarga merasa terbebani oleh inflasi, sejauh ini hanya sedikit tanda bahwa konsumen secara agregat mulai mengurangi belanja mereka secara tajam,” kata Paulson.

(bbn)

No more pages