Ekspor Masih Kuat
Sementara itu, Myrdal menyebut saat ini dari sisi eksportir kesempatan masihlah cukup banyak terutama untuk ekspor yang orientasinya manufaktur dan juga hilirisasi. Selain itu dari sisi pariwisata juga masih bisa ada peluang yang bisa ditangkap untuk mendatangkan devisa.
“Sehingga suplai valas di dalam negeri juga bisa bertambah dan rupiah kita juga bisa terdorong lebih kuat,” kata Myrdal.
Myrdal juga mengingatkan mengenai data terakhir dari BPS yang menunjukkan pelebaran trade surplus lantaran para importir disinyalir keberatan pada saat dolar mengalami penguatan.
“Jadi ekspansi mereka menurun, sehingga ekspor dengan impor gapnya itu semakin lebar dengan ekspor yang mencatat surplus yang lebih besar. Nah, dengan kondisi seperti sekarang, tekanan yang terjadi di rupiah itu pure bukan dari real sector atau bukan dari aktivitas ekspor-impor,” kata Myrdal.
Sehingga bila langkah intervensi moneter BI agresif, dan BI tahu kapasitasnya, Myrdal menilai bahwa BI bisa mengantisipasi potensi hot money outflow di pasar keuangan. Dan apabila hal tersebut terjadi, Ia memprediksi peluang peguatan rupiah semakin lebar.
“Karena kalau untuk potensi outflow di pasar keuangan, saya rasa itu terbatas ya. Dan BI punya kapasitas untuk membendung itu,” katanya.
(ell)































