Logo Bloomberg Technoz

“Saya sudah targetkan Rp2 triliun, hanya dapat Rp600 miliar, artinya yang jual juga sedikit sebetulnya. Jadi kita memastikan harga bond tetap terkendali. [sudah masuk] dari Kamis minggu lalu, sedikit. Kemarin sedikit, sekarang saya lihat lagi seperti apa,” ujarnya. 

BSF merupakan dana yang disiagakan pemerintah untuk melakukan pembelian kembali (buyback) obligasi guna menekan imbal hasil (yield) yang sudah terlalu tinggi.

Sebelumnya, BSF memang sudah direncanakan untuk diimplementasikan saat kursi Menteri Keuangan dijabat oleh Bambang Brodjonegoro. Namun, skema dana stabilisasi obligasi hanya berakhir sebagai sebuah wacana.

Kala itu, dalam rencana Bambang, BSF dikaji sebagai alat baru mitigasi krisis keuangan. Instrumen ini dipersiapkan untuk melengkapi kerangka stabilisasi obligasi, BSF yang dipakai hanya saat kondisi ekonomi darurat atau mengalami krisis.

Namun demikian, intervensi pemerintah di pasar obligasi tidak menandakan bahwa saat ini ekonomi Indonesia dalam kondisi darurat. Tidak seperti BSF yang dikeluarkan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Instrumen tersebut akan menjadi cara Purbaya untuk menstabilkan pasar obligasi, sehingga pada akhirnya akan menjaga agar nilai tukar rupiah tetap stabil.

Apalagi, saat ini yield SBN yang sebesar 6,7% naik signifikan dari sebelumnya 5,9%. Dalam konsep surat utang, imbal hasil (yield) berbanding terbalik dengan harga obligasi. Sebaliknya, saat harga SBN naik akibat aksi beli, yield SBN akan turun.

Mengacu OTC Bloombergyield SUN tenor 1Y melonjak 21,4 basis poin (bps) mencapai 6,463%. Kemudian tenor 5Y juga naik 16,5 bps menyentuh 6,782%. 

Tenor lebih panjang 10Y naik 17,5 bps hingga 6,866%. Lalu tenor 20Y naik 6,4 bps sampai 6,9% pada siang kemarin.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di perdagangan pasar spot pada pukul 09:42 WIB, melanjutkan pelemahannya ke Rp17.710/US$. 

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah setelah sehari sebelumnya ambles lebih dari 1% dan menandai meningkatnya tekanan besar di pasar keuangan domestik.

(lav)

No more pages