Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan rupiah yang terus mencetak rekor terendah membuat investor global semakin berhati-hati menempatkan dana di emerging markets seperti Indonesia. Selisih imbal hasil obligasi rupiah dengan obligasi AS memang masih ada, tetapi pasar mulai menilai premi tersebut tidak lagi cukup besar untuk mengompensasi risiko depresiasi nilai tukar.

Artinya, masalah utama bukan lagi sekadar level yield, melainkan persepsi risiko. Ketika dolar AS terus menguat akibat tingginya suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik global, investor akan cenderung memilih aset safe haven dibanding berburu imbal hasil di negara berkembang.

Sebagai catatan, yield SUN tenor 1 tahun telah terkerek 8 bps ke 6,55%, menandakan posisi tertingginya sejak April tahun lalu. 

Yield SUN tenor 1 tahun naik 8 bps ke 6,55%, tertinggi sejak April 2025. (Bloomberg)

Kondisi ini membuat Bank Indonesia berada dalam posisi yang semakin sulit. Jika BI mempertahankan suku bunga terlalu lama, tekanan terhadap rupiah dan obligasi domestik tentu bisa semakin besar. Namun jika BI menaikkan bunga terlalu agresif, konsekuensinya adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik.

“Risiko masih condong pada kenaikan yield lebih lanjut jika yield US Treasury terus bergerak naik atau harga minyak tetap tinggi. Sebaliknya, stabilisasi kondisi global dapat sedikit membantu memperbaiki sentimen pasar,” tulis Chew dalam catatannya.

DBS melihat pasar mulai mengantisipasi kemungkinan BI mengambil langkah yang lebih hawkish dalam waktu dekat.

Bahkan jika kenaikan suku bunga dilakukan sebagai langkah defensif, pasar obligasi Indonesia masih berisiko mengalami flattening curve alias mendatar. Kondisi ini terjadi ketika yield obligasi tenor pendek naik lebih cepat dibanding tenor panjang. Situasi seperti ini biasanya mencerminkan ekspektasi pengetatan moneter yang lebih agresif dalam jangka pendek.

Chew menyebut Indonesia sebenarnya tidak sendirian menghadapi situasi ketidakpastian global yang datang dari kenaikan harga minyak, tetapi kerentanan rupiah semakin membuat tekanan terhadap pasar domestik terasa lebih dalam. 

Di tengah volatilitas global yang tinggi seperti sekarang, sepertinya menjaga kepercayaan investor sepertinya jadi jauh lebih penting dibanding sekadar mempertahankan momentum pertumbuhan jangka pendek.

(dsp)

No more pages