Fokus utama kini sepertinya mulai bergeser dari stimulus pertumbuhan menuju menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal asing.
Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, menjadi satu-satunya ekonom yang memproyeksikan BI Rate naik 50 bps menjadi 5,25%. Sepertinya, ia mengantisipasi kemungkinan yang lebih ekstrem, bahwa BI bisa saja dipaksa menaikkan suku bunga lebih tinggi jika tekanan rupiah semakin tidak terkendali.
Fakhrul menilai kondisi saat ini bukan lagi semata-mata persoalan harga minyak atau arah suku bunga The Fed, melainkan mulai menyentuh persoalan yang lebih fundamental, yaitu kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi Indonesia.
“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor itu sendiri. Ketika pasar mulai mempertanyakan di mana terminal level rupiah, di mana inflation anchor, dan bagaimana koordinasi fiskal-moneter akan berjalan, maka biaya stabilisasi ke depan bisa menjadi jauh lebih mahal,” ujar Fakhrul.
Ia menilai belum adanya sinyal penyesuaian yang cukup tegas, khususnya terkait harga energi domestik, arah subsidi, dan kalibrasi fiskal, membuat tekanan penyesuaian berpindah hampir sepenuhnya ke nilai tukar rupiah. Dalam rezim arus modal terbuka pasca-1998, kondisi tersebut berpotensi memunculkan fenomena Dornbusch overshooting yang semakin agresif.
Fenomena Dornbusch overshooting adalah pelemahan nilai tukar yang bergerak jauh melampaui level fundamentalnya akibat kepanikan pasar dan ekspektasi yang tidak terkendali.
Hal ini cukup logis jika melihat tekanan eksternal yang masih tinggi. Yield US Treasury bertahan di level tinggi, harga minyak dunia masih rentan naik akibat tensi geopolitik Timur Tengah, sementara dolar AS terus menguat terhadap mayoritas mata uang emerging markets.
Dalam kondisi seperti ini, pemangkasan suku bunga terlalu cepat justru berisiko memperbesar tekanan terhadap rupiah. Apalagi, rupiah sendiri sedang berada dalam fase yang sangat rapuh. Pelemahan telah melampaui level Rp17.700/US$ membuat ruang kompromi BI semakin kecil.
Hingga Selasa (19/52026) pukul 14:30 WIB, rupiah diperdagangkan di Rp17.729/US$, melemah 0,41% sejak penutupan kemarin. Sepanjang 2026, rupiah tercatat sudah melemah 5,86% dan menempati posisi kedua terlemah di Asia setelah rupee India.
Jika BI terlalu dovish, maka pasar bisa membaca bahwa bank sentral mulai mengendurkan prioritas stabilitas. Dampaknya bisa berbahaya: capital outflow meningkat, premi risiko aset domestik naik, dan volatilitas pasar obligasi semakin besar.
Menangkap keresahan pasar itu, Gubernur BI Perry Warjiyo sepertinya telah mengirim sinyal hawkish saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kemarin. Ia mengatakan tekanan global yang meningkat membuat kebijakan moneter tidak lagi bisa sepenuhnya diarahkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi seperti tahun lalu.
“Kalau di 2025 monetary policy pada waktu prosperity and growth, maka dengan global seperti ini, monetary policy-nya tidak bisa lagi pro growth. Harus kembali kepada stability,” kata Perry.
Tingginya suku bunga AS, lonjakan yield US Treasury, hingga ketegangan geopolitik global mendorong penguatan dolar AS dan memicu pelarian modal dari negara berkembang. Menurut Perry, kondisi tersebut membuat BI harus lebih agresif menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan domestik, termasuk melalui kemungkinan penguatan kebijakan moneter.
Jika langkah hawkish tidak diambil, maka risiko yang dihadapi bukan hanya pelemahan rupiah yang akan berlanjut, tetapi juga meningkatnya tekanan pada pasar obligasi, likuiditas domestik.
Dalam situasi seperti saat ini, pasar mulai membaca adanya selisih yang makin tipis antara yield aset rupiah dengan risiko yang harus ditanggung investor.
Meski begitu, tetap ada ekonom yang memproyeksikan adanya kemungkinan suku bunga tetap di posisi 4,75%. Kelompok ekonom ini tampaknya melihat perlambatan ekonomi domestik mulai membutuhkan dukungan moneter tambahan.
Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Economics salah satu ekonom yang memproyeksikan BI Rate tetap di 4,75%. Henderson menyebut, BI Rate ditahan lantaran kenaikan harga minyak mentah menekan pertumbuhan dengan proyeksi inflasi kemungkinan akan melampaui target BI yang berada rentang 1,5-3,5%.
Selain itu, konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih, permintaan kredit melambat, dan tekanan sektor manufaktur mulai terlihat dari penurunan aktivitas ekspor.
"BI kemungkinan akan beralih ke kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini jika harga minyak tetap tinggi dan upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi terus menunjukkan hasil. Kondisi tersebut berpotensi mendorong inflasi jauh di atas target," kata Henderson dalam catatannya.
--- dengan asistensi Mis Fransiska Dewi
(dsp/aji)




























