Hingga 16 Mei, Kongo melaporkan delapan kasus terkonfirmasi laboratorium, 336 kasus suspek, dan 87 kematian suspek di Provinsi Ituri, menurut data Africa Centres for Disease Control and Prevention. Uganda mengonfirmasi dua kasus di Kampala, termasuk satu kematian, pada pelaku perjalanan yang datang dari Kongo.
Wabah tersebut diduga telah menyebar tanpa terdeteksi selama beberapa pekan sebelum akhirnya diidentifikasi. Pengujian awal menemukan delapan sampel positif Ebola dari 13 spesimen yang dikumpulkan dari berbagai wilayah, sementara sejumlah kematian misterius dan kasus suspek tambahan juga dilaporkan di Ituri dan Provinsi North Kivu yang bertetangga.
Sedikitnya empat tenaga kesehatan meninggal dunia dalam kondisi yang konsisten dengan demam berdarah akibat virus, sehingga memicu kekhawatiran mengenai penularan di klinik dan rumah sakit.
Penetapan WHO yang dikenal sebagai PHEIC (Public Health Emergency of International Concern) ditujukan untuk menggerakkan pendanaan internasional, koordinasi, dan upaya tanggap darurat. Ini menjadi deklarasi pertama sejak mpox ditetapkan sebagai darurat kesehatan global pada 2024.
Namun, WHO belum menetapkan status “darurat pandemi”, kategori baru yang dibentuk dalam revisi regulasi kesehatan internasional setelah pandemi Covid-19.
Bundibugyo ebolavirus merupakan salah satu spesies Ebola paling langka yang diketahui menginfeksi manusia. Virus ini hanya pernah menyebabkan dua wabah terdokumentasi sebelumnya, yakni di Uganda pada 2007 dan Kongo bagian timur pada 2012. Secara gabungan, jumlah kasus dari dua wabah tersebut masih lebih sedikit dibanding epidemi saat ini.
Sebagian besar vaksin dan terapi antibodi Ebola dikembangkan untuk strain Zaire yang lebih umum dan lebih mematikan setelah epidemi besar di Afrika Barat satu dekade lalu yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.
“Ebola Zaire adalah jenis yang paling banyak mendapat perhatian, dan memang ada alasan kuat untuk itu,” kata Susan McLellan dalam wawancara pada Jumat.
WHO menegaskan tidak ada negara yang perlu menutup perbatasan atau memberlakukan pembatasan perjalanan maupun perdagangan. Menurut WHO, langkah semacam itu tidak efektif dan justru berisiko mendorong perpindahan orang melalui jalur yang tidak terpantau.
Sebagai gantinya, WHO meminta negara-negara tetangga memperkuat pengawasan, pengujian laboratorium, dan langkah pengendalian infeksi. WHO juga memperingatkan bahwa kondisi keamanan di Kongo timur, perpindahan penduduk, dan tingginya mobilitas terkait aktivitas pertambangan dapat mempersulit upaya pengendalian wabah.
Wabah berpusat di Provinsi Ituri dekat perbatasan Uganda, termasuk di sekitar kota tambang emas Mongbwalu, tempat para pekerja kerap berpindah antara kamp-kamp terpencil dan pusat perdagangan regional.
WHO menyebut sifat penularan yang terjadi di kawasan urban maupun semi-urban meningkatkan risiko penyebaran lebih luas, serupa dengan epidemi besar Ebola di North Kivu dan Ituri pada 2018-2019. WHO juga mendesak dilakukannya uji klinis darurat terhadap vaksin dan terapi eksperimental.
Pejabat kesehatan tengah mempertimbangkan sejumlah pengobatan potensial, termasuk antibodi monoklonal dan antivirus remdesivir milik Gilead Sciences, meski belum ada yang secara khusus disetujui untuk infeksi Bundibugyo. Kandidat vaksin dari University of Oxford dan Moderna juga sedang ditinjau.
Deklarasi terbaru ini muncul ketika para ahli kesehatan global memperingatkan bahwa pemangkasan bantuan luar negeri AS dan program pengawasan penyakit dapat melemahkan kapasitas respons wabah di wilayah rentan.
Kongo telah menghadapi lebih dari selusin wabah Ebola dalam setengah abad terakhir dan dianggap sebagai salah satu negara paling berpengalaman dalam menangani penyakit tersebut. Namun, konflik, infrastruktur yang lemah, dan rendahnya kepercayaan terhadap otoritas berulang kali menghambat upaya penanganan di wilayah timur negara itu.
(bbn)




























