Logo Bloomberg Technoz

Dinamika di Timur Tengah masih menjadi faktor utama pemberat langkah harga emas. Sejak perang meletus pada akhir Februari lalu, harga aset ini sudah anjlok lebih dari 13%.

Kecemasan utama adalah soal produksi dan distribusi berbagai komoditas vital, utamanya energi. Selat Hormuz, yang menjadi rute pelayaran kunci untuk berbagai komoditas, masih tertutup dan belum bisa dilalui oleh kapal dagang.

Ini membuat harga energi masih melambung tinggi. Kemarin, harga minyak jenis brent ditutup melesat 3,33% ke US$ 109,24/barel. Sepanjang pekan ini, harga brent melejit 7,85%.

Situasi ini membuat investor khawatir dunia akan dilanda inflasi tinggi. Alhasil, bakal sulit bagi bank sentral di berbagai negara untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.

“Ekspektasi inflasi, yield (imbal hasil) obligasi yang tinggi, dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) mungkin akan terus menekan harga emas,” tulis catatan ANZ Group Holdings Ltd, seperti dikutip dari Bloomberg News.

ANZ pun memundurkan target harga emas di US$ 6.000/troy ons menjadi pertengahan 2027, yang awalnya diperkirakan bisa terjadi awal tahun depan.

(aji)

No more pages