Namun, Hadi meyakini CNG tetap dapat digunakan langsung pada kompor LPG yang sudah ada, tanpa perlu mengonversi kompor eksisting.
Meskipun begitu, dia menyarankan pemerintah membuat proyek percontohan pemanfaatan CNG 3 kg terlebih dahulu. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan penggunaan CNG sebagai pengganti LPG.
“[Perlu ada] regulasi dan petunjuk pelaksanaan khusus terkait penggunaan bejana kecil bertekanan tinggi,” tegas Hadi.
Lebih Unggul dari DME
Ekonom energi dari Universitas Padjajaran (Unpad) Yayan Satyakti meyakini CNG memiliki keunggulan yang lebih besar, dibandingkan memanfaatkan dimetil eter (DME) sebagai opsi pengganti LPG.
Yayan mengungkapkan CNG memiliki harga yang lebih murah sekitar 30%—40% dibandingkan dengan LPG. Sebaliknya, DME justru lebih mahal sekitar 42% jika dihitung berdasarkan basis energi.
Kesiapan masifikasi CNG juga dinilai lebih matang karena sudah digunakan secara komersial di sektor industri, alih-alih memaksakan pemanfaatan DME yang pabriknya ditargetkan baru beroperasi pada 2030.
Dari aspek fiskal, lanjut Yayan, CNG juga dinilai lebih menguntungkan karena berpotensi mengurangi subsidi hingga sekitar 30%.
Sebaliknya, pengembangan DME dari gasifikasi batu bara membutuhkan investasi awal yang besar dan memerlukan subsidi agar harga jualnya ekonomis di masyarakat.
Dari sisi lingkungan, CNG menghasilkan emisi 20%—25% lebih rendah dibandingkan dengan LPG. Sementara itu, DME dinilai masih memiliki intensitas karbon tinggi apabila diproduksi tanpa teknologi carbon capture and storage (CCS).
“Jadi kalau dilihat berdasarkan pada aspek efisiensi; efisiensi harga, kesiapan teknologi domestik, dampak fiskal, dan peluang aksesibilitas [maka] CNG relatif lebih unggul dibandingkan DME,” kata Yayan ketika dihubungi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang mengkaji penggunaan tabung CNG tipe 4, yakni tabung dengan bahan plastik atau polimer dan dibungkus dengan komposit atau carbon fiber serta fiberglass untuk digunakan sebagai bahan tabung CNG 3 kg.
Dalam perkembangannya, kementerian lantas menyatakan proyek CNG 3 kg tidak akan dicanangkan untuk menggantikan LPG 3 kg bersubsidi.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan masifikasi CNG melalui pengembangan tabung 3 kg bakal dilakukan secara bertahap dan belum direncanakan dikembangkan sangat masif untuk menggantikan Gas Melon.
“Sebenarnya alternatif dan pengganti kan artinya sama ya. Cuma kalau kita bilang pengganti itu masif sama besar, kalau alternatif kita ada tahapan-tahapannya. [Kebijakan] yang benar itu kita ada tahapan-tahapannya,” kata Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (13/5/2026).
Dia mengungkapkan pada tahun ini Kementerian ESDM bakal meluncurkan sejumlah proyek percontohan atau pilot project pemanfaatan CNG dalam tabung 3 kg.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, CNG merupakan bahan bakar gas yang dibuat dengan mengkompresi gas alam yang terdiri dari C1 atau metana dan C2 atau etana.
Kemudian, CNG disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekanan atau tabung pada tekanan tinggi, antara 200 hingga 250 bar (setara 2.900 hingga 3.600 psi).
Ketahanan tabung juga diklaim dapat mencapai 650 baru atau 9.427 psi. Dengan begitu, tabung CNG bakal memiliki toleransi yang besar untuk kebutuhan keamanan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengklaim pemanfaatan CNG 3 kg untuk menyubstitusi penggunaan LPG 3 kg dapat menghemat devisa hingga Rp137 triliun per tahun.
Selain menghemat devisa, Bahlil mengklaim harga CNG 3 kg bakal lebih murah dibandingkan dengan penggunaan LPG 3 kg. Dengan demikian, dia yakin subsidi yang digelontorkan pemerintah juga bisa lebih rendah.
(azr/wdh)






























