Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi tingkat produsen AS mencapai 6% pada Maret. Tertinggi sejak Desember 2022.
Angka ini lagi-lagi di atas Maret yang sebesar 4,3% yoy. Juga melampaui ekspektasi pasar dengan perkiraan 4,9% yoy.
Ancaman inflasi tinggi membuat pasar makin ragu akan kemungkinan pelonggaran moneter. Apalagi Senat AS sudah menyetujui Kevin Warsh sebagai pengganti Jerome ‘Jay’ Powell di kursi Gubernur Federal Reserve (Bank Sentral AS).
Sebagai orang dekat Presiden Donald Trump, investor bertanya-tanya apakah Warsh mampu menjaga khittah bank sentral untuk mengambil keputusan tanpa tekanan politik. Independensi bank sentral kembali jadi sorotan pelaku pasar, karena Trump dikenal sangat ingin suku bunga rendah.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan terasa kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana prediksi gerak harga emas untuk hari ini, Kamis (14/5/2026)? Apakah akan terjadi koreksi tiga hari beruntun?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas masih bertahan di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 50.
Namun RSI emas berada di ambang batas bullish, sehingga bisa dikatakan hanya relatif netral.
Menariknya, indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 81. Sudah di atas 80, yang berarti tergolong jenuh beli (overbought).
Untuk perdagangan hari ini, harga emas berpeluang naik. Cermati pivot point di US$ 4.710/troy ons.
Dari situ, harga emas berpotensi mengetes resisten US$ 4.730-4.786/troy ons. Target paling optimistis atau resisten terjauh adalah US$ 4.921/troy ons.
Namun kalau harga emas malah turun lagi, maka US$ 4.679/troy ons rasanya bisa menjadi target support terdekat. Penembusan di titik ini berisiko melongsorkan harga ke level US$ 4.659-4.610/troy ons.
Target paling pesimistis atau support terjauh ada di US$ 4.511/troy ons.
(aji)


























