Logo Bloomberg Technoz

Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tetap stabil bulan lalu di tengah ketidakpastian tinggi mengenai kelanjutan perang terhadap Iran serta dampaknya bagi inflasi dan aktivitas ekonomi. Para pembuat kebijakan kini tengah bergulat dengan lonjakan tajam harga energi dan pangan, yang mendorong inflasi harga konsumen tahunan ke angka 3,8%—lonjakan tertinggi sejak 2023. Di sisi lain, aktivitas ekonomi tetap tangguh dan angka pengangguran masih rendah.

Meski demikian, semakin banyak pejabat The Fed yang menyuarakan kekhawatiran mereka tentang tekanan harga yang terus berlanjut. Tiga anggota dengan hak suara di Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menyatakan ketidaksetujuan terhadap sinyal bahwa langkah kebijakan selanjutnya kemungkinan adalah pemangkasan suku bunga. Pekan lalu, Collins mengatakan kepada Bloomberg News bahwa ia sependapat dengan para anggota yang keberatan tersebut.

Pada hari Rabu, Collins menyebutkan bahwa kemungkinan terjadinya skenario alternatif—seperti inflasi yang lebih tinggi dan persisten, memburuknya pasar tenaga kerja, atau keduanya—telah meningkat. Ia memperingatkan bahwa gangguan berkelanjutan terhadap pengiriman barang melalui Selat Hormuz akan memperparah tekanan ekonomi global.

"Semakin lama dan semakin mengganggu konflik di Timur Tengah, semakin besar dampak inflasinya—tidak hanya pada energi, tetapi juga pada pangan serta banyak kategori barang dan jasa dalam komponen inflasi inti," tegas Collins.

"Meskipun bukan skenario yang paling mungkin dalam pandangan saya, saya bisa membayangkan situasi di mana pengetatan kebijakan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan inflasi kembali secara permanen ke angka 2% tepat waktu," tambahnya. "Namun untuk saat ini, saya melihat posisi kebijakan moneter sudah tepat untuk menyesuaikan dengan perkembangan prospek dan keseimbangan risiko yang ada."

(bbn)

No more pages