Logo Bloomberg Technoz

Capital outflow yang deras dari pasar saham turut memicu depresiasi nilai tukar rupiah, Kurs Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp17.500 per dolar AS menyitir data terbaru per 12 Mei 2026, melemah 4,63% year–to–date/ytd. Hasilnya, rupiah berada di tren kritis, level terlemah sepanjang sejarah.

Sejauh ini terdapat 10 emiten yang paling gencar 'dijauhi' investor asing sepanjang tahun 2026.

Adapun investor asing paling banyak menjual saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai Rp26,8 triliun. Imbas tekanan jual yang amat masif, saham BBCA sepanjang tahun melemah 24,15% di posisi Rp6.125/saham.

Selanjutnya, ada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang tercatat net sell sebesar Rp9,25 triliun. Seiring dengan terus diobral, laju harga sahamnya melemah 16,86% secara ytd di posisi Rp4.240/saham.

Investor asing juga gemar menjauhi saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang menempati posisi ketiga. Nilai jual asing atas saham BUMI mencapai Rp8,85 triliun. Dengan manuver tersebut, sahamnya turun 42% menyentuh posisi Rp212/saham.

Daftar net sell investor asing sepanjang 2026, per tanggal 18 Maret.

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp26,8 triliun
  2. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp9,25 triliun
  3. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp8,85 triliun
  4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp7,06 triliun
  5. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp2,28 triliun
  6. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp2,19 triliun
  7. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp1,75 triliun
  8. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp949,97 miliar
  9. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) Rp717,01 miliar
  10. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) Rp692,09 miliar

Kendatipun begitu, tidak jarang investor asing masih mencatat aksi beli bersih (net buy) di pasar saham Indonesia.

Deretan saham dengan net buy oleh asing terbesar sepanjang 2026,

  1. PT Astra International Tbk (ASII) Rp2,52 triliun
  2. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp1,91 triliun
  3. PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp1,86 triliun
  4. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp1,79 triliun
  5. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) Rp1,78 triliun
  6. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp1,77 triliun
  7. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) Rp1,02 triliun
  8. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Rp1,01 triliun
  9. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) Rp825,56 miliar
  10. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp772,7 miliar

Mengutip data Bloomberg, tingkat return IHSG yang tercatat minus 20,68% dalam rentang periode ditarik sepanjang tahun (year–to–date/ytd), kalah dan tertinggal jauh dari tetangga– Strait Times Index Singapura misalnya, yang berhasil mencatat return 6,32% pada periode yang sama.

IHSG juga kalah dibanding keuntungan investasi di Bursa Saham Malaysia di mana FTSE Malaysia KLCI mencatat return positif 4,19% sepanjang tahun 2026 berjalan.

Adapun IHSG juga kalah telak dibanding Bursa Saham Asia lainnya, KOSPI Korea Selatan yang berhasil melesat 81% ytd, lalu NIKKEI 225 dengan keberhasilan melejit 24,64%, CSI 300 China turut menguat 6,87%, menyusul Ho Chi Minh Stock Vietnam yang menguat 6,54%, hingga Hang Seng Hong Kong menguat 2,81%.

Bursa Saham Indonesia juga masih lebih lesu dari capaian return Bursa Saham India di mana SENSEX mencatat minus 12,2% ytd.

(fad)

No more pages