Menurut Pandu kekuatan performa saham dari dua negara ini salah satunya didukung adanya perkembangan Artificial Intelligence (AI) ditambah dengan General Intelligence (GI).
Disisi lain, Pandu mengakui bahwa per 11 Mei 2026, IHSG tercatat anjlok hampir 20% secara year-to-date (YtD) ke level 6.900-an.
Pandu menambahkan, hal ini juga disebabkan karena tidak beragamnya saham yang terdaftar di BEI.
Dalam pandangannya, saham yang terdaftar saat ini dengan market cap besar mayoritas berasal dari saham perbankan dan saham pertambangan.
“Dinamika di Indonesia yang listed hanya apa? Bank dan Mining companies. Di Taiwan ada satu perusahaan, namanya TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company). Market cap-nya lebih besar dari seluruh Asia Tenggara,” jelas Pandu.
Untuk diketahui, TSMC adalah perusahaan pembuat chip terbesar dan paling dominan di dunia, memproduksi lebih dari 90% chip tercanggih untuk Apple, NVIDIA, dan AMD.
Dalam kesempatan berbeda, Pandu mengatakan, Danantara masih menunggu detail terkait rebalancing MSCI nanti.
“Aku sudah liat perkembangannya Bursa bagus kok dari sisi penerapan yang sedang dilakukan. Insya Allah besok, baiklah,” kata Pandu.
(smr/naw)


























