Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengungkapkan tim Pertamina sedang berada di AS untuk melakukan penjajakan pembelian minyak mentah dengan sejumlah perusahaan setempat.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyatakan dirinya baru saja menyelesaikan rapat dengan Kementerian Luar Negeri dan sejumlah duta besar untuk membahas rencana Indonesia mengimpor komoditas migas dari AS.

“Tadi pagi saya juga rapat dengan Kemenlu dan juga dengan beberapa dubes itu juga kita atas komitmen itu tim dari Pertamina kan juga lagi ada di Amerika sekarang. Jadi perusahaan-perusahaan mana yang bisa menyuplai kita dalam waktu cepat dan juga bagaimana pengiriman yang kita harapkan itu berbagai sumber untuk kebutuhan crude kita dan juga untuk kebutuhan LPG dalam negeri itu bisa terpenuhi,” kata Yuliot kepada awak media di Kementerian ESDM, Jumat (24/4/2026).

Yuliot juga memastikan Indonesia sudah meningkatkan impor gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) dari AS, yakni saat ini sudah 60%—70% impor LPG Indonesia didatangkan dari AS.

“Jadi ya kita berusaha untuk meningkatkan sebagai pemenuhan komitmen kita di ART, tetapi di dalamnya kan kalau kita menambah itu sumbernya dari mana lagi? Untuk crude itu juga sama. Itu yang lagi didetailkan oleh teman-teman Pertamina,” ujar dia.

Dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang dirilis Gedung Putih pada 19 Februari 2026, Indonesia diwajibkan mendukung dan memfasilitasi pembelian LPG senilai US$3,5 miliar atau setara Rp59,13 triliun.

Selain itu, Indonesia juga akan mengimpor minyak mentah dari Negeri Elang Bondol dengan nilai US$4,5 miliar atau setara Rp76,02 triliun.

Terakhir, Indonesia juga harus mengimpor BBM atau bensin olahan senilai US$7 miliar atau setara Rp118,26 triliun.

“Indonesia akan memfasilitasi, dengan memberikan semua persetujuan pemerintah, keputusan, dan izin yang diperlukan kepada entitas milik negara dan sektor swasta, peningkatan pembelian energi AS,” tulis Gedung Putih.

(azr/wdh)

No more pages