“Ketika volume produksi dikurangi cukup signifikan, perusahaan tentu akan menghitung ulang skala operasi agar tetap efisien dan tetap memenuhi kewajiban DMO [domestic market obligation],” kata Gita ketika dihubungi, Kamis (7/5/2026).
Permintaan Melandai
Di sisi lain, Gita menyatakan permintaan batu bara global saat ini sedang melemah, utamanya dari negara sumber ekspor Indonesia seperti China dan India.
Gita mencatat kedua negara tersebut tengah menahan impor sebab stok masih tinggi dan produksi domestik meningkat.
Hal itu terefleksi dari capaian ekspor batu bara Indonesia pada kuartal I-2026 yang hanya mencapai 112 juta ton atau turun 10,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
“Sementara itu, ekspor ke Jepang naik, salah satunya karena switching dari LNG [gas alam cair], sedangkan Korea Selatan dan Taiwan mengalami penurunan,” jelas Gita.
Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 5,61% secara year on year (yoy).
Berdasarkan lapangan usaha, industri pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi 21,4%, serta industri pengadaan listrik dan gas yang mengalami kontraksi sebesar 0,99%.
Lapangan usaha lainnya, padahal, tercatat tumbuh pada awal tahun ini.
Industri pengolahan tumbuh 5,04%; perdagangan, reparasi mobil, dan sepeda motor tumbuh 6,26%; pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 4,97%; transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04%; penyediaan akomodasi dan makanan minuman tumbuh 13,14%; serta jasa lainnya tumbuh 9,91%.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas target produksi batu bara pada tahun ini di dalam RKAB 2026. Produksi batu bara pada RKAB 2026 menjadi sekitar 600 juta ton, turun dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 790 juta ton.
Adapun, BPS melaporkan volume ekspor batu bara Indonesia sepanjang Januari—Desember 2025 mencapai 39,93 juta ton atau terkoreksi 3,66% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 405,76 juta ton.
Berdasarkan volumenya, ekspor batu bara sepanjang 2025 minus 19,7% ke level US$24,48 miliar atau sekitar Rp411,14 triliun (asumsi kurs Rp16.795 per dolar AS).
Torehan kinerja ekspor komoditas emas hitam itu terpaut lebar dari capaian sepanjang periode yang sama tahun sebelumnya di level US$30,49 miliar atau sekitar Rp512,07 triliun.
Kemudian negara tujuan utama ekspor batu bara terdiri dari; India, China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Filipina, Thailand, Hongkong, hingga Spanyol.
Adapun, produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton. Realisasi produksi batu bara itu anjlok 5,5% dari capaian sepanjang 2024 sebesar 836 juta ton. Kendati demikian, produksi itu lebih tinggi dari target yang dipatok tahun ini sebesar 739,6 juta ton.
Sebagian besar produksi itu disalurkan untuk pasar ekspor, sekitar 514 juta ton atau 65,1% dari total produksi, sementara untuk pasar domestik atau DMO mencapai 254 juta ton atau 32%.
Adapun, stok batu bara yang dicadangkan sampai akhir 2025 sebesar 22 juta ton atau 2,8% dari keseluruhan produksi tambang.
(azr/wdh)






























