Mahasiswa Taiwan Ditangkap Usai Retas Sistem Radio Kereta Cepat
Merinda Faradianti
07 May 2026 11:25

Bloomberg Technoz, Jakarta - Seorang mahasiswa berusia 23 tahun ditangkap setelah berhasil meretas sistem komunikasi radio kereta cepat Taiwan High Speed Rail (THSR) dan memaksa empat rangkaian kereta berhenti darurat selama 48 menit.
Lin, sebagaimana informasi terduga peretasan dari Kejaksaan Distrik Taoyuan, enghentikan empat kereta cepat menggunakan komunikasi SDR atau software-defined radio dan radio genggam untuk mengirimkan sinyal General Alarm berprioritas tinggi.
Berkat aksinya tersebut memicu prosedur pengereman darurat pada kereta cepat tersebut, mengutip laporan BleepingComputer, Kamis (7/5/2026).
THSR sendiri merupakan jaringan kereta api berkecepatan tinggi di Taiwan yang menjalankan satu jalur dua arah sepanjang 350 KM atau sepanjang 27 mil di sepanjang Pantai Barat negara tersebut, dengan kecepatan kereta mencapai 300 KM/jam atau 186 mph.
Dalam laporan yang sama dijelaskan, sistem yang disusupi adalah TETRA menggunakan peralatan SDR yang dibeli secara online. Lin mengirimkan sinyal General Alarm (GA) untuk peringatan TETRA dengan prioritas tertinggi yang secara otomatis memerintahkan kereta-kereta di area tersebut untuk beralih ke pengereman darurat manual.
Sebelum mengirimkan sinyal, Lin dilaporkan mencegat dan mendekode parameter sistem menggunakan perangkat SDR. Ia menganalisis struktur sinyal, kemudian memprogram parameter yang sama ke dalam radio genggam untuk menyamar sebagai beacon THSR yang sah.
Otoritas menyebut, Lin mendekode dan menggunakan kembali parameter TETRA yang sudah lama tidak diperbarui dengan bantuan seorang temannya berusia 21 tahun, dan berhasil melewati beberapa lapisan verifikasi.
Sistem radio THSR dilaporkan sudah beroperasi selama 19 tahun dengan tujuh lapisan verifikasi, namun parameter-parameternya tidak pernah diperbarui secara berkala selama beberapa waktu. Hal ini yang memungkinkan Lin bisa mendekode dan mereplikasi sinyal hanya dengan peralatan yang dibeli secara online.
Pasca insiden tersebut, pusat kendali THSR mengidentifikasi anomali digital pada asal sinyal. Untuk menyingkirkan kemungkinan ancaman dari dalam, manajer fasilitas melakukan audit inventaris mendesak atas seluruh peralatan komunikasi TETRA internal. Setelah memastikan tidak ada perangkat resmi yang hilang, operator menyimpulkan sinyal GA telah dibuat secara artifisial dari luar jaringan.
Menggunakan pelacakan sinyal dan forensik digital, penyidik akhirnya menemukan keberadaan Lin dalam hitungan hari. Dengan surat perintah penggeledahan dari pengadilan, aparat penegak hukum menggerebek tiga lokasi pada 28 April, termasuk rumah dan tempat kerja Lin, serta menyita berbagai perangkat elektronik.
Lin yang ditangkap pada 28 April menghadapi hukuman hingga 10 tahun penjara berdasarkan Undang-Undang Perkeretaapian Taiwan dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dengan pembelaan tidak meyakinkan bahwa ia secara tidak sengaja menekan tombol di sakunya. Setelah diinterogasi, Lin dibebaskan dengan jaminan NT$100.000 di keesokan malamnya.
































